Newscast.id - Banjir bandang yang menerjang kawasan Nepal pada 26 Agustus 2026 membuat ribuan orang menjadi korban. Laporan terakhir, 1.400 orang dilaporkan masih hilang dan 392 orang tewas.
Melansir AFP, Jumat, 28 Agustus 2026, polisi Nepal telah menemukan 389 jenazah. Selain itu mereka juga mendata 910 orang, termasuk 517 wisatawan asing, masih belum diketahui keberadaannya. Sedangkan China melaporkan 100 warganya hilang di Nepal.
Sementara itu, di Daerah Otonomi Tibet China, media pemerintah China melaporkan tiga orang tewas dan 558 orang, termasuk 260 warga asing, masih hilang akibat longsor lumpur di Pelabuhan Gyirong.
Langkah Pemerintah Nepal dan China
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah meminta pemerintah daerah segera memberikan bantuan kepada keluarga yang kehilangan tempat tinggal. Selain itu juga pihak terkait segera membuka jalan yang tertutup.
Sementara itu, Perdana Menteri China Li Qiang menyatakan telah mengerahkan hampir 800 personel darurat, anjing pelacak, dan perahu cepat untuk membantu operasi penyelamatan.
Penyebab banjir bandang di Nepal
Banjir bandang yang menerjang Nepal terjadi pada Rabu, 26 Agustus. Dalam video yang beredar terlihat air bah raksasa tetiba meluncur deras dari gunung dan menghancurkan seluruh wilayah yang dilewatinya dalam waktu hitungan detik.
Para ahli geologi dan glasiologi menduga banjir bandang Nepal ini terjadi akibat longsoran es (ice avalanche) dari gletser di kawasan Pegunungan Himalaya.
Para pakar yang menganalisis citra satelit menemukan bongkahan es berukuran sekitar 610 meter terlepas dari gletser di ketinggian 17.000 kaki (5.180 meter). BOngkahan es itu kemudian jatuh hampir 4.000 kaki (1.200 meter) menuju lembah.
Bongkahan es yang hancur kemudian bercampur dengan air dan meluncur deras ke arah Sungai Bhote Koshi di perbatasan Nepal dan Tibet. Derasnya arus ini membuat ribuan orang dinyatakan hilang.
Para ilmuwan menduga, peristiwa longsoran es Himalaya gegara kenaikan suhu akibat perubahan iklim. Meski demikian, mereka belum menyatakan penyebab pasti bencana tersebut karena masih harus diteliti lebih lanjut.
Namun, Daniel Shugar, ahli geologi dari University of Calgary, Kanada, mengatakan analisis awal terhadap citra satelit menunjukkan gletser di kawasan Himalaya mengalami patahan besar dan terlepas secara tiba-tiba.
“Sepertinya sebuah gletser di kawasan tersebut patah, sehingga memungkinkan bongkahan itu jatuh lebih dari satu kilometer secara vertikal ke dasar lembah,” ujar Shugar.
Menurutnya, material yang tersisa di bagian bawah tampak seperti lokasi ledakan karena dipenuhi endapan dari gletser yang hancur.
Sementara itu Simon Cook, ahli glasiologi dari University of Dundee, Skotlandia, yang turut menganalisis citra satelit, mengatakan, bongkahan es yang terlepas itu diduga memiliki lebar sekitar 610 meter. Bongkahan es itu jatuh dari ketinggian sekitar 17.000 kaki dan meluncur hampir 4.000 kaki ke bawah.
Jatuhnya bongkahan es itu membuat sebuah energi hebat dan mengubah bongkahan menjadi campuran material yang bergerak sangat cepat.
“Es itu pada dasarnya hancur menjadi air,” kata Cook.
Setelah menggabungkan data-data yang ada, tim peneliti membuat kesimpulan sementara, banjir bandang itu kemungkinan besar disebabkan oleh longsoran batu dan es yang kemudian berubah menjadi aliran deras ketika bergerak menuju hilir.
Artikel lainnya: Apakah tepung singkong bisa padamkan karhutla? Ini penjelasan BRIN
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News