Singapura ungkap 7 perusahaan Indonesia yang diduga terlibat karhutla

  • Arry
  • 17 Okt 2026 18:30
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)(@fachymarin/unsplash)

Newscast.id - Pemerintah Singapura merilis daftar tujuh perusahaan di Indonesia yang diduga bertanggung jawab dan terlibat dalam kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Daftar nama 7 perusahaan itu didasarkan pada investigasi otoritas Singapura. Hasilnya akan diterbitkan oleh Badan Lingkungan Hidup Nasional (National Environment Agency/NEA) berdasarkan Undang-Undang Pencemaran Kabut Asap Lintas Batas (Transboundary Haze Pollution Act).

Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Hidup Singapura, Grace Fu, mengatakan pihaknya akan mengirimkan pemberitahuan terhadap ketujuh perusahaan tersebut.

Berikut nama-nama tujuh perusahaan tersebut:

PT Bumi Andalas Permai;
PT Bumi Mekar Hijau;
PT Paramitra Mulia Langgeng;
PT Sumatera Alam Anugerah;
PT SBA Wood Industries;
PT Hutan Lestari Raya;
PT Bangkanesia.

Baca juga
BREAKING NEWS: Asap karhutla Kalimantan masuk Jakarta, Banten, Jabar

"Investigasi kami sejauh ini menunjukkan bahwa sebagian kabut asap yang dialami di Singapura berasal dari kebakaran di lahan milik tujuh perusahaan di Indonesia," kata Grace Fu dikutip dari Channel News Asia, Sabtu, 17 Oktober 2026.

Pemerintah Singapura mewajibkan perusahaan-perusahaan tersebut mengerahkan personel pemadam kebakaran untuk memadamkan atau mencegah penyebaran api di lahan yang mereka miliki atau kuasai.

Selain itu, perusahaan tersebut diwajibkan menghentikan atau tidak memulai kegiatan pembakaran apa pun di lahan tersebut. Perusahaan juga diminta menyerahkan rencana aksi mereka kepada NEA Singapura.

Grace Fu menyatakan pihaknya akan menyelidiki perusahaan yang terbukti bertanggung jawab menyebabkan kabut asap lintas batas di Singapura.

Selain itu NEA juga akan mengeluarkan pemberitahuan kepada lebih banyak perusahaan dan mempertimbangkan langkah-langkah lain berdasarkan UU tersebut, jika ada indikasi bahwa mereka menyebabkan kebakaran yang berujung pada kabut asap lintas batas.

"Kami akan terus memantau situasi serta respons perusahaan-perusahaan tersebut terhadap pemberitahuan ini, jika memang diperlukan," ujarnya.

"Kami memahami bahwa kondisi yang mereka hadapi cukup rumit, dan kami siap membantu sebisa mungkin," ujar Grace.

Artikel lainnya: Pesawat Citilink pecah ban usai take-off dari Bandara Halim, langsung balik lagi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait