Jejak Perseteruan Dokter Terawan vs IDI: Dua Kali Dipecat

  • Arry
  • 26 Mar 2022 13:02
Mantan Menteri Kesehatan Dokter Terawan Agus Putranto(humas/kemkes.go.id)

Mantan Menteri Kesehatan dokter Terawan Agus Putranto dipecat dari anggota Ikatan Dokter Indonesia atau IDI. Ini sudah kali kedua dokter Terawan dipecat dari IDI.

Kabar pemecatan dokter Terawan pertama kali diketahui dari Twitter milik epidemiolog Pandu Riono. Dalam akun pribadinya, Pandu Riono membagikan video dari Muktamar XXXI IDI pada Jumat, 25 Maret 2022.

"Terawan diberhentikan secara permanen dari keanggotaan IDI, salah satu keputusan Muktamar XXXI di Kota Banda Aceh. @PBIDI," cuit dokter Pandu Riono.

"Itu rekomendasi dari MKEK Pusat pada Ketua Umum @PBIDI dan akan diputuskan pada sidang khusus Muktamar IDI XXXI," tulis Pandu Riono dikutip Sabtu, 26 Maret 2022.

Dokter Terawan Dipecat Permanen Sebagai Anggota IDI

Belum ada pernyataan resmi dari PB IDI soal pemecatan dokter Terawan. Namun, konflik dokter Terawan dan IDI sudah berlangsung beberapa tahun terakhir.

Berikut jejak konflik dokter Terawan dan IDI:

Perseteruan dokter Terawan dan IDI berawal saat dokter Terawan mengklaim memiliki terapi cuci otak untuk mengobati stroke. Terapi itu dilakukan dengan menggunakan teknik Digital Substraction Angiography (DSA).

IDI menyatakan terapi cuci otak dokter Terawan itu belum teruji secara ilmiah. IDI menilai teknik DSA yang dilakukan dokter Terawan hanyalah sebuah teknik diagnosis. Selain itu Terawan juga dinilai telah mempromosikan terapi cuci otak itu dengan klaim kesembuhan total.

Pada 2015, MKEK memanggil dokter Terawan untuk menjelaskan terapi cuci otak tersebut. Namun hingga 2018, Terawan tidak pernah menghadiri sidang etik IDI.

Akhirnya, MKEK IDI memutuskan menggelar sidang inabsentia tanpa kehadiran dokter Terawan. Dalam sidang itu diputuskan dokter Terawan divonis melakukan pelanggaan kode etik dengan sanksi pemecatan sementara dari IDI.

Dalam surat putusan MKEK No.009320/PB/MKEK-Keputusan/02/2018, ada empat pelanggaran kode etik yang dilakukan dokter Terawan:

Pertama, mengiklankan diri secara berlebihan dengan klaim tindakan untuk pengobatan dan pencegahan.
Kedua, tidak kooperatif pada sidang MKEK IDI.
Ketiga, menarik bayaran dalam jumlah besar pada tindakan yang belum ada bukti medisnya.
Keempat, menjanjikan kesembuhan pada pasien.

Putusan itu tak dipatuhi dokter Terawan. Dia tetap melanjutkan terapi cuci otak dengan tekni DSA. Terapi juga dilakukan kepada sekitar 1.000 warga Vietnam sebagai upaya mempromosikan medical tourism.


Selanjutnya dilantik Jokowi sebagai Menteri Kesehatan >>>

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait