Kisah pilu orang tua korban Daycare Little Aresha: Anak alami pneumonia, luka, diikat
- Arry
- 27 April 2026 11:37
Newscast.id - Kasus kekerasan pada anak di Daycare Little Aresha yang berada di Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta, membuat gempar. Para orang tua menguak kekerasan yang dialami anaknya.
Kasat Reskrim Polresta Yogyakarta Kompol Riski Adrian menduga ada 53 anak yang jadi korban kekerasan. Sementara total anak yang berada di daycare Aresha mencapai 103 anak.
"(Korban) usia di bawah 2 tahun," kata Adrian.
Salah satu orang tua korban, Noorman Windarto, mengungkapkan penyiksaan yang dialami anaknya. Menurutnya, anaknya sampai mengalami pneumonia hingga luka-luka usai dititipkan di daycare tersebut.
Baca juga
Terbongkarnya kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakarta, 53 anak jadi korban
"Luka-luka di punggung, di bibir, kemudian ada di selangkangan, ada di tubuh. Kayak di Guantanamo," ungkapnya.
Untuk diketahui, Guantanamo adalah lokasi penjara Amerika Serikat yang dikenal kerap terjadi penyiksaan dan pelanggaran HAM.
"Kalau yang punggung sama bibir itu, saya sangat konsen, saya kadang-kadang mandiin, wong punggung itu enggak ada (luka) sama sekali. Kalau luka goresan dan lain-lain, pas di daycare itu langsung kaya difoto sama ya, kata sekolah, 'Ini, adik sudah luka dari rumah, lho.' Itu mulai janggal," jelas dia.
"Yang kedua juga sama, bibir, bibir sampai ngelopek-ngelopek itu masih ada kayak bekas merah-merah. Saya juga enggak mungkin ini di rumah nggak apa-apa," ujarnya.
Meski demikian, Noorman mengaku ada dua anaknya yang pernah dititipkan di daycare Littel Aresha. Anak pertama pada 2022-2025; sementara satu anak lagi 2024 sampai digerebek polisi pada pekan lalu.
"Yang 2022 mulai 2 tahun lebih sampai 5 tahunan. Yang kedua yang cowok dari 3 bulan sampai 2,5 tahun," bebernya.
Baca juga
Pemilik Daycare Depok Meita Irianty Aniaya 2 Balita yang Diasuh, Apa Motifnya
Noorman menjelaskan, berdasarkan foto-foto yang ditunjukkan polisi, terlihat kekerasan yang dialami anak-anak yang dititipkan di daycare itu.
"Pas anak-anak masih diikat dan tidak pakai baju hanya pakai popok. Ada yang masih berdiri di cagak pintu. Usianya udah besar terus apa namanya diikat. Terus yang dibedong," papar Noorman.
"Saya juga akhirnya trauma, trauma di situ, kalau lihat itu (foto) pasti nangis," katanya.
Antok, salah satu orang tua korban lainnya, mengungkapkan, akibat kekerasan yang dialami, kondisi anaknya tak berkembang. Dia khawatir anaknya stunting atau kekurangan gizi.
"Anak kami memang berkaitan dengan berat badan, memang stuck begitu saja. Ini tidak ada peningkatan yang signifikan," kata Antok di Yogyakarta.
"(Soal stunting) Ya itu kekhawatiran kami sebagai orang tua ketika anak tidak sesuai standar (perkembangannya) ada kekhawatiran ke arah sana (stunting)," ujarnya.
Antok mengakui menitipkan anaknya di daycare itu sejak usia 2 bulan hingga 3 tahun. Selama itu dia mengakui kerap mendapati luka di tubuh anaknya.
"Dari proses kami selama lebih kurang 3 tahun, memang ada beberapa berkaitan dengan luka-luka itu ada memang dengan teman-teman yang tadi juga disampaikan, juga ada beberapa kejadian-kejadian yang tentunya kami selaku orang tua tidak mengharapkan itu, seperti itu," katanya.
Artikel lainnya: 103 sekolah swasta di Jakarta digratiskan, Pramono gelontorkan Rp253,6 miliar