Sejarah gerbong khusus perempuan posisinya di ujung kereta, sudah ada sejak 2010

  • Arry
  • 30 April 2026 16:59
Gerbong khusus perempuan di KRL(kai/kai.id)

Newscast.id - Kecelakaan maut antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur menyebabkan 16 penumpang tewas. Seluruh korban adalah perempuan yang tengah berada di gerbong khusus perempuan.

Kecelakaan maut ini terjadi pada Senin, 27 April 2026 malam. Selain korban tewas, ada puluhan penumpang yang mengalami luka-luka dan harus dirawat.

Banyaknya korban dari perempuan membuat Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi bersuara. Dia mengusulkan agar ke depannya gerbong khusus perempuan tak diletakkan di ujung kereta, tetapi dipindah ke tengah.

"Tapi dengan peristiwa ini, kita mengusulkan kalau bisa yang perempuan itu ditaruh di tengah," ujar Arifah pada Selasa, 28 April.

Baca juga
Sosok Menteri PPPA yang usul gerbong perempuan dipindah ke tengah imbas kecelakaan KA

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menegaskan, fokus utama bukan pada perbedaan gender, melainkan keselamatan seluruh penumpang.

"Kebetulan yang paling belakang adalah kereta khusus wanita. Pasti ada concern mengapa justru yang paling rentan yang kita siapkan secara khusus selama ini gerbongnya, justru yang mendapatkan bisa dikatakan risiko yang paling tinggi," ujar AHY pada 28 April.

"Ini juga bagian yang akan kita terus evaluasi, tapi yang jelas adalah laki dan perempuan sama saja, tidak boleh menjadi korban dalam insiden apa pun," sambungnya.

Mengenai posisi gerbong khusus perempuan ini pun menjadi pembahasan. Sebab, gerbong khusus ini selalu diletakkan di ujung depan dan belakang rangkaian kereta.

Baca juga
Menteri PPPA Arifah minta maaf usai usulkan gerbong KRL perempuan pindah ke tengah

Lalu sejak kapan penempatan gerbong khusus perempuan ini berlaku, begini sejarahnya:

Kebijakan pemberlakuan gerbong khusus perempuan ini sudah berlaku sejak 19 Agustus 2010. Kebijakan ini diresmikan Menteri Perhubungan saat itu, Freddy Numberi.

"Pengoperasian Kereta Khusus Wanita merupakan terobosan baru sebagai wujud pelayanan transportasi Kereta Api kepada publik pengguna kereta api," kata Menhub Freddy Numberi saat itu, 19 Agustus 2010.

Dengan adanya gerbong khusus perempuan ini diharapkan perempuan akan merasakan keamanan dan kenyamanan saat menggunakan KRL, sehingga akan menarik lebih banyak kaum perempuan yang selama ini menggunakan moda transportasi lain untuk melakukan perjalanan dengan kereta api.

Kehadiran gerbong khusus perempuan ini juga bertujuan memberikan perlindungan serta rasa aman dan nyaman bagi penumpang kaum perempuan pekerja dan yang berpergian dengan anak kecil (sampai usia 10 tahun), terlebih dari risiko pelecehan seksual di dalam kereta.

Kenapa posisi gerbong khusus perempuan diletakkan di ujung depan dan belakang kereta?

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menegaskan, keselamatan penumpang menjadi prioritas utama tanpa membedakan gender. Penempatan gerbong khusus perempuan di depan dan belakang ini mempertimbangkan aspek kenyamanan, kemudahan akses, serta keamanan karena lokasinya dekat dengan petugas.

"Kami perlu menegaskan juga bahwa keselamatan ada prioritas utama kami. Kami tidak ada toleransi sama sekali untuk melanggar atau menurunkan tingkat keselamatan dari para pelanggan pengguna jasa PT Kereta Api Indonesia, baik itu gendernya laki-laki maupun gendernya perempuan," kata Bobby pada Rabu, 29 April 2026.

"Selama ini kami lakukan pemisahan itu karena ada beberapa aspek, aspek pertama adalah agar tidak terjadi harassment. Kedua adalah memberi kemudahan-kemudahan akses untuk para perempuan atau wanita juga. Ketiga adalah memberikan security yang lebih karena lebih dekat dengan penjaga di ujung," ucapnya.

Artikel lainnya: Menyoal dapur MBG bermasalah tetap terima insentif Rp6 juta per hari

Related Articles

Berita Terpopuler

Berita Pilihan