Babak baru mencari bahtera Nabi Nuh AS di Situs Durupinar Turki
- Arry
- 28 September 2026 11:03
Newscast.id - Misteri keberadaan bahtera Nabi Nuh AS memasuki babak baru. Sekelompok pakar internasional saat ini tengah meneliti situs Durupinar, yang berada di wilayah Turki, yang diduga merupakan kapal bersejarah tersebut.
Penggalian ini dilakukan kumpulan pakar yang tergabung dalam Noah's Ark Scans, sebuah organisasi dan eksplorasi yang berbasis di California. Lembaga ini didirikan Andrew Jones, peneliti asal Amerika Serikat.
Penggalian difokuskan pada sebuah situs Durupinar yang memiliki bentuk kapal sepanjang 157 meter. Formasi ini terletak sekitar 29 kilometer sebelah selatan puncak Gunung Ararat dan 3 kilometer dari perbatasan Iran.
Formasi yang mirip formasi sebuah kapal ini menjadi sorotan dan diduga adalah bahtera Nabi Nuh sejak 1959.
Baca juga
Kisah Nabi Musa Belah Laut Merah Saat Kabur dari Kejaran Firaun, Ini Bukti Ilmiahnya
Mengutip kantor berita Turki Anadolu, pemimpin penggalian tersebut adalah Prof. Dr. Cenker Atila. Dia adalah dosen Departemen Arkeologi Fakultas Sastra Universitas Cumhuriyet Sivas. Prof Cenker menyatakan, saat ini mereka masih memeriksa temuan itu.
“Kami melakukan pengujian untuk menentukan apakah sampel yang diperoleh dari lokasi penggalian merupakan sisa-sisa organik (makhluk hidup),” kata Atila, dilansir dari Anadolu dikutip Senin, 28 September 2026.
Penggalian ini menggunakan sejumlah peralatan mutakhir seperti koordinat GPS presisi, perangkat pemodelan digital 2D dan 3D, teknik pengeboran inti, pemindaian electrical resistivity tomography (ERT), serta teknologi ground penetrating radar (GPR) berpresisi tinggi. Penelitian ini juga telah berlangsung sejak 29 Juni hingga 11 September 2026.
Dari sampel yang ditemukan saat penggalian, penanggalan karbon baru akan selesai dalam 2-3 bulan.
Prof Cenker Atila menegaskan, sampai saat ini belum ada kepastian apakah gundukan yang menyerupai kapal itu adalah Bahtera Nabi Nuh. Dia pun menyebut, informasi yang beredar kapal Nabi Nuh ditemukan belum tepat.
Dia juga menyatakan, sampai saat ini belum ditemukan sisa kayu, paku, atau material lain yang menunjukkan objek tersebut adalah buatan manusia.
Meski demikian, tim peneliti menyatakan, berdasarkan data radar menunjukkan adanya koridor utama sepanjang sekitar 71 meter serta struktur berbentuk siku-siku hingga kedalaman 6 meter. Tim tersebut menafsirkan struktur itu sebagai ruangan dan lorong.
Saat ini tim telah mengumpulkan 1.000 sampel tanah. Tim juga melaporkan kadar karbon yang tinggi serta fragmen tembikar di dalam formasi tersebut.
Artikel lainnya: Rekomendasi 5 sate kambing khas Tegal maknyus di Jakarta