Newscast.id - Harga BBM nonsubsidi Pertamina dikabarkan bakal naik pada 1 April 2026. Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, merespons kabar tersebut.
Bahlil menyatakan, berdasarkan Peraturan Menteri ESDM ada dua formula BBM, yaitu untuk industri (nonsubsidi) dan nonindustri (subsidi). Naik maupun turunnya harga BBM untuk industri alias nonsubsidi mengikuti harga pasar.
Menurut Bahlil, jika terjadi perubahan harga, apakah itu turun atau naik, tidak perlu diumumkan pemerintah. Berbeda dengan BBM nonindustri atau subsidi, jika ada kenaikan harga harus diumumkan pemerintah karena terkait dengan suntikan uang negara.
Baca juga
Beredar isu harga BBM Pertamax naik jadi Rp17.850 per liter, ini kata Pertamina
"Jadi mau diumumkan atau tidak diumumkan dia akan mengikuti harga pasar. Itu yang industri. Apa itu definisi yang industri adalah bensin RON 95, 98, itu kan orang-orang yang mampu. Selama mereka mau jalan banyak, selama ada uang untuk bayar monggo, tugas negara menyiapkan, yang membayar mereka dan tidak ada tanggungan negara sama sekali," kata Bahlil di sela-sela mendampingi Presiden Prabowo Subianto kunjungan kerja di Jepang, dalam keterangan tertulis.
Untuk diketahui, Pertamina memproduksi BBM nonsubsidi berupa Pertamax (RON 92), Pertamax Turbo (RON 98), Pertamax Green (RON 95), Pertamina Dex (CN 53), dan Dexlite (CN 51).
Sedangkan yang termasuk BBM subsidi adalah Pertalite yang dibanderol Rp10.000 per liter, dan Solar (Biosolar) Rp6.800 per liter
"Yang kita fokus itu adalah menyangkut dengan subsidi," ujarnya.
"Nah tadi saya katakan bahwa subsidi tunggu tanggal mainnya insyaallah saya yakinkan bahwa Bapak Presiden dalam membuat kebijakan selalu mempertimbangkan dan memprioritaskan tentang kondisi masyarakat. Insyaallah baik nanti tunggu tanggal mainnya ya," jelas Bahlil.
Artikel lainnya: FIFA Series 2026: Indonesia jadi runner-up usai takluk 0-1 dari Bulgaria
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News