Newscast.id - Fenomena cuaca yang terjadi di Jakarta dan sejumlah kota lainnya pada awal April 2026 cukup unik. Saat pagi hingga siang udara terasa panas terik, namun saat sore hingga malam kerap turun hujan.
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Agie Wandala Putra, menjelaskan, fenomena cuaca ini. Menurutnya, kondisi cuaca saat ini dipicu pemanasan permukaan yang kuat pada pagi hingga siang hari.
“Kondisi hujan yang terjadi di awal April ini umumnya dipengaruhi oleh pemanasan permukaan yang kuat pada pagi-siang hari sehingga memicu naiknya massa udara ke atmosfer,” kata Agie dalam keterangan tertulisnya.
Menurut Agie, kelembapan udara yang relatif basah, disertai tingkat kelabilan atmosfer dan indeks konvektif yang mendukung, turut berperan dalam pertumbuhan awan hujan. Hal ini berpotensi menimbulkan hujan lebat, kilat-petir, hingga angin kencang.
Baca juga
Geger benda misterius diduga rudal nyasar melintas di Lampung, Ini penjelasan BRIN
"Selain itu, sejak akhir Maret hingga awal April, aktivitas gelombang ekuatorial Rossby di wilayah Jabodetabek dan MJO yang aktif secara spasial di wilayah Sumatera juga turut mendukung pertumbuhan awan hujan," lanjutnya.
Agie menjelaskan, fenomena ini juga berkaitan dengan masa peralihan musim dari musim hujan ke kemarau. Kondisi cuaca seperti ini diperkirakan berlangsung dalam beberapa pekan ke depan.
“Wilayah Jabodetabek diprakirakan mulai memasuki awal musim kemarau pada April-Mei 2026, yang berlangsung secara bertahap. Oleh karena itu, pada periode awal ini hujan masih berpotensi terjadi sebagai bagian dari fase transisi musim,” jelasnya.
“Pola curah hujan yang cukup signifikan di wilayah Jabodetabek ini diprakirakan masih berpotensi terjadi hingga sepekan ke depan, dengan kecenderungan menurun,” ungkapnya.
Meski demikian, lanjut Aguq, ada potensi hujan lebat yang bakal terjadi pada periode 5-8 April 2026. Kondisi ini akan terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Jakarta dan Jawa Barat.
“BMKG mengimbau masyarakat dan para pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu, potensi bencana hidrometeorologi akibat cuaca ekstrem, maupun potensi kebakaran hutan di sejumlah wilayah rentan,” terang Agie.
"BMKG juga mengimbau masyarakat untuk secara aktif memantau informasi prakiraan cuaca, peringatan dini, dan peringatan cuaca ekstrem resmi dari BMKG melalui berbagai kanal informasi, antara lain www.bmkg.go.id, aplikasi InfoBMKG, serta media sosial @infobmkg," pungkasnya.
Artikel lainnya: Heboh macan tutul di pemukiman warga di Puncak Bogor diduga lepas dari Taman Safari
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News