Newscast.id - Satu peserta kategori relay ITB Ultra Marathon 2026 bernama Dody Muhammad Pasha, meninggal dunia saat berlari. Almarhum kolaps saat berlari di kilometer ke-9. Begini kronologinya.
Race Director ITB Ultra Marathon 2026, Ahmad Shalahuddin Zulfa, menjelaskan, Dody merupakan pelari urutan ke-11 dalam tim relay 16. Dia bertugas menempuh jarak sekitar 10 kilometer sebelum bergantian dengan pelari berikutnya.
Zulfa menjelaskan kronologi meninggalnya Dody saat ikut ITB Ultra Marathon 2026. Menurutnya, peristiwa ini pertama kali diketahui panitia sekitar pukul 12.00 WIB.
"Sekitar jam 12, kami mendapatkan informasi dari masyarakat, yang kemudian disampaikan kepada komunitas bahwa ditemukan salah satu pelari kami di relay 16," kata Zulfa di Kampus ITB, Bandung, Minggu, 18 Oktober 2026.
Baca juga
Dijanjikan hadiah Rp2 Juta, juara lomba lari 10 Km di Dompu cuma dapat hadiah 3 gelas
"Dia urutan ke-11. Ditemukan tidak di jalur, tapi sudah agak masuk sedikit ke arah pesantren. Langsung dibawa oleh pengurus pesantren beserta ambulansnya ke rumah sakit," ujarnya.
Menurutnya, panitia langsung mengerahkan tim medis ke lokasi usai menerima laporan masyarakat. Tim medis pun langsung membawa Dody ke rumah sakit.
Zulfa menjelaskan, saat tiba di rumah sakit, Dody masih hidup, tetapi mengalami sesak napas. Kondisi tersebut berlanjut selama penanganan, termasuk ketika ia berada di dalam ambulans.
Tim medis pun terus melakukan sejumlah tindakan untuk menyelamatkan korban, termasuk memberikan resusitasi jantung paru (RJP). Dari komunikasi antara tim Tambang Berlari, keluarga, dan dokter yang menangani korban, ditemukan cairan di dalam paru-paru Dody saat prosedur intubasi.
"Ada kemungkinan memang pada saat kondisinya panas sekali, mungkin dia juga dalam kondisi agak kurang sadar penuh meminum air sepertinya sebagian masuk ke dalam paru-parunya. Sehingga akhirnya membuat dia menjadi sulit bernapas," kata Zulfa.
Zulfa menjelaskan, Dody kemudian dinyatakan meninggal dunia pada Sabtu siang. Panitia kemudian mendampingi proses penanganan jenazah sejak sekitar pukul 14.00 WIB bersama komunitas pelari, pihak rektorat, wakil rektor bidang akademik, dan direktur kemahasiswaan ITB.
Pendampingan berlangsung hingga keluarga Dody tiba pada malam hari. Jenazah kemudian diserahterimakan kepada keluarga untuk dibawa ke Jambi melalui jalur darat.
Baca juga
Kronologi mahasiswa ITB hilang di Gunung Puntang hingga ditemukan selamat
Skrining kesehatan
Zulfa menjelaskan, panitia telah melakukan skrining kesehatan terhadap seluruh peserta. Pemantauan ini dilakukan melalui kuesioner yang disiapkan bersama Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) dan Yayasan AMP.
Menurut Zulfa, Dody memiliki latar belakang aktif bermain voli dan telah menjalani latihan cukup intensif selama lima bulan untuk mempersiapkan diri mengikuti ITB Ultra Marathon. Dody pun telah mengisi kuesioner itu dan mendapatkan status hijau.
"Kalau tidak mengisi itu, tidak kami izinkan buat lanjut. Beliau mengisi dan statusnya hijau," kata Zulfa.
Meski demikian, status itu diberikan berdasarkan skrining melalui kuesioner yang dibagikan.
"Kami sangat berduka, di mana pada tahun ini kami justru meningkatkan beberapa kali lipat keamanan. Namun memang semua upaya maksimal, kami tetap tidak bisa melawan kehendak Tuhan," katanya.
Sementara itu Ketua Pelaksana ITB Ultra Marathon 2026, Aleks Suhanto, mengatakan panitia telah mengasuransikan peserta. Karena itu, hak-hak yang berkaitan dengan asuransi akan diproses untuk diberikan kepada ahli waris Dody.
"Jadi dari panitia, karena kami sudah mengasuransikan peserta, jadi tentu saja kami akan memberikan hak-hak beliau," kata Aleks.
"Tapi terlepas dari itu, dari Ikatan Alumni Tambang yang berkolaborasi dengan Komisariat ITB Ultra kemarin juga kami sudah men-support untuk seluruh biaya tindakan di rumah sakit bahkan sampai ke alamat rumah beliau," ujar Aleks.
Artikel lainnya: Kebijakan siswa tak otomatis naik kelas berlaku mulai tahun ajaran 2027-2028
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News