Kisah Warga Tuban: Setahun Lalu Tajir Melintir, Kini Sulit Cari Makan

  • Arry
  • 26 Jan 2022 14:48
Warga Tuban dahulu kaya mendadak, kini mereka kesulitan cari makan(ist/ist)

Nasib warga Desa Wadung dan Sumurgeneng, Kecamatan Jenu, Tuban, Jawa Timur berubah 180 derajat. Setahun silam, mereka hidup bergelimangan uang miliaran rupiah. Namun kini warga kesulitan ekonomi hingga sulit mencari makan.

Untuk diketahui, pada 2021, warga Desa Wedung menerima kompensasi atas lahannya yang dibeli Pertamina untuk proyek Kilang Tuban. Para warga menerima uang kompensasi hingga miliaran rupiah.

Namun, banya warga yang justru membelanjakan uang yang mereka terima untuk membeli mobil. Tidak cuma satu, tapi warga membeli dua hingga tiga mobil sekaligus.

Kini kondisi mereka berbalik. Warga mengaku kesulitan mencari makan sebab tak memiliki pekerjaan tetap.

Dilansir dari blokTuban.com, seorang warga bernama Musanam berusia 60 tahun, mengaku kini kesulitan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya.

Padahal Musanam pernah memiliki tanah seluas 117 meter persegi. Dari tanah itu, dia bisa membuat peternakan sapi. Namun, setelah tanahnya dijual ke Pertamina, kini jumlah sapinya terus berkurang lantaran dijual untuk mencukupi kebutuhan hidupnya.

"Saya mau melepas tanah dan rumah untuk kilang karena dijanjikan dipekerjakan sebagai pembersih rumput di area kilang minyak. Pekerjaan itu masih mampu saya kerjakan meskipun sekarang usia sudah 60 tahun," ujar Musanam.

Selain itu, tawaran pekerjaan dari Pertamina tak kunjung datang. Sementara uang ganti untung dari Pertamina sudah habis dibelikan rumah dan lahan di tempat baru.

"Harapan saya tinggal ini. Setiap hari saya terus diomeli istri karena menganggur. Sapi terus menerus berkurang untuk makan sehari-hari," imbuhnya.

Warga lainnya yang menyesal menjual tanah ke Pertamina adalah Mugi. Pria berusia 60 tahun itu kini tak memiliki pekerjaan setelah menjual tanahnya seluas 2,4 hektare ke Pertamina.

"Sekarang ada perasaan menyesal karena sudah menjual lahan. Dulu lahan saya ditanami jagung dan cabai dan setiap kali panen bisa meraup Rp40 juta tapi sekarang saya tak punya pendapatan lagi," katanya.

Koordinator warga, Suwarno, menyatakan, kini Pertamina memberikan syarat pekerja dari warga lokal harus berusia di bawah 50 tahun. Padahal menurutnya, dahulu tidak ada syarat seperti itu.

"Ada pembatasan persyaratan usia yang dilakukan pihak perusahaan di atas 50 tahun tidak diperbolehkan," tutur Suwarno,

"Ini gimana pekerja kasar aja tidak diperbolehkan, Tapi, kenyataannya ada pekerja dari luar ring 1 yang usianya di atas batas umur yang ada," kata dia.

 

Ratusan warga yang demo di depan Pertamina Tuban akhirnya ditemui perwakilan Pertamina GRR bernama Solikhin. Dia berjanji akan menyampaikan tuntutan warga ke manajemen.

"Ya, nanti pihak coorporate yang akan menjawab semuanya melalui lembaran press release," katanya.

Untuk diketahui, warga di Kecamatan Jenu ini mendapatkan ganti untung dari Pertamina pada 2020. Nilai proyek Kilang Tuban ini cukup fantastis, yakni Rp211,9 triliun. Ditargetkan Kilang Tuban ini akan beroperasi pada 2026.

Proyek Kilang Tuban merupakan bagian dari mega proyek kilang Pertamina yang terdiri dari Refinery Development Master Plan (RDMP) dan kilang baru (Grass Root Refinery/ GRR).

Proyek ini merupakan hasil kerjasama Pertamina dan perusahaan migas asal Rusia, Rosneft. Kedua perusahaan ini membentuk PT Pertamina Rosneft dengan komposisi saham 55 persen milik Pertamina dan sisanya milik Rosneft.

Kilang Tuban diproyeksikan menjadi salah satu kilang tercanggih di dunia. Sebab kilang ini akan memiliki kapasitas pengolahan sebesar 300 ribu barel per hari. Dan diperkirakan menghasilkan 30 juta liter BBM per hari untuk jenis gasoline dan diesel.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait