314 Ribu warga di kawasan karhutla terjangkit ISPA. 70 ribu di antaranya balita

  • Arry
  • 21 Oktober 2026 16:05
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla)(@EmmaRenly/unsplash)

Newscast.id - Kementerian Kesehatan mencatat ada 314.124 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dari jumlah itu, 70 ribu di antaranya adalah balita.

Kemenkes menghimpun data tersebut pada periode 20 Agustus hingga 20 Oktober 2026 dari tujuh provinsi dan 65 kabupaten/kota terdampak karhutla.

Dari total kasus kumulatif tersebut, sebanyak 243.234 kasus ISPA atau sekitar 77,4 persen terjadi pada kelompok usia di atas 5 tahun. Sementara itu, 70.890 kasus atau sekitar 22,6 persen dialami anak usia 0-5 tahun.

Berikut rincian kasus di enam provinsi yang tercantum dalam data:

  • Sumatera Selatan: 82.177 kasus
  • Kalimantan Selatan: 78.894 kasus
  • Kalimantan Barat: 55.686 kasus
  • Riau: 36.433 kasus
  • Kalimantan Timur: 27.688 kasus
  • Kalimantan Tengah: 26.740 kasus

Di enam provinsi tersebut, kasus ISPA pada kelompok usia di atas 5 tahun mencapai 238.283 kasus. Jumlah itu jauh lebih tinggi dibandingkan kasus pada anak usia 0-5 tahun yang tercatat sebanyak 69.335 kasus.

Selain ISPA, Kemenkes juga mencatat sejumlah penyakit lain yang menjangkiti warga di wilayah terdampak karhutla. Seperti pneumonia, diare akut, penyakit kulit, sakit mata, influenza-like illness (ILI), dan heat stroke.

Baca juga
Singapura ungkap 7 perusahaan Indonesia yang diduga terlibat karhutla

Dari data Kemenkes, ada 1.400 kasus pneumonia di Kalimantan Tengah. Sementara itu, kasus diare akut tertinggi tercatat di Kalimantan Barat, dengan 4.314 kasus.

Untuk mengantisipasinya, Kemenkes mencatat sejumlah provinsi menyediakan rumah oksigen dan mengerahkan tenaga kesehatan. Rumah oksigen terbanyak berada di Kalimantan Tengah dengan 295 unit, disusul Kalimantan Selatan dengan 127 unit dan Kalimantan Barat dengan 35 unit.

Kemenkes juga telah menyalurkan logistik kesehatan ke daerah terdampak selama periode 19 Agustus hingga 20 Oktober 2026. Bantuan yang telah dibagikan itu berupa meliputi 1.001.680 masker bedah, 89.050 masker N95, dan 40.000 sarung tangan medis atau handscoon.

Selain itu, Kemenkes menyalurkan 3.632 kacamata pelindung (goggles), 3.250 nasal kanul, 2.450 nasal oxygen, 800 masker nebulizer, dan 200 masker oksigen.

Sementara itu untuk obat-obatan, bantuan yang disalurkan meliputi 448.600 obat diare, 60.700 antihistamin, 34.560 obat batuk, 24.900 bronkodilator, 4.500 antipiretik, 4.200 kortikosteroid, dan 1.050 antibiotik. Bantuan lainnya mencakup oksigen, vitamin, serta salep.

Artikel lainnya: Greenpeace bentangkan spanduk protes bencana ke pemerintah di Bundaran HI

Related Articles

Berita Terpopuler

Berita Pilihan