1 Muharam 2022, 4 Alasan Kenapa Nabi Muhammad Hijrah ke Kota Madinah

  • Arry
  • 29 Juli 2022 06:12
Masjid Nabawi di Kota Madinah(@haidan/unsplash)

1 Muharam merupakan tahun baru Islam. 1 Muharam 1444 Hijriah akan jatuh pada 30 Juli 2022. 1 Muharam juga merupakan sebagai tanda awalnya Nabi Muhammad SAW hijrah dari Makkah ke Madinah.

Dalam hadis riwayat Bukhori, Nabi Muhammad SAW pernah bercerita, dirinya bermimpi hijrah dari Kota Makkah ke suatu kota yang memiliki banyak pohon kurma. Rasulullah menduga kota tersebut adalah Yamamah atau Hajar.

Namun dugaan Rasulullah SAW salah. Tempat yang dipilih sebagai tempat hijrah ternyata adalah kota Madinah, yang saat itu bernama Yatsrib.

Lalu apa alasan Nabi Muhammad SAW hijrah ke Kota Madinah?

Alasan utamanya tentu karena perintah Allah. Rasulullah SAW tidak akan berhijrah kecuali atas perintah Allah. Bahkan Malaikat Jibril sudah menyampaikan pesan Allah, bahwa waktu yang tepat untuk berhijrah adalah saat tengah malam, yakni di saat para elit kaum Quraisy tengah lengah.

Baca juga
Mengulik Rute Hijrah Nabi Muhammad SAW ke Yatsrib

Melansir laman NU Online, saat itu penduduk Kota Yatsrib juga sudah banyak yang memeluk agama Islam. Hal itu tentu menjadi modal bagus bagi Rasulullah untuk menyiarkan Islam. Namun selain dua hal tersebut, ada empat alasan kenapa yang dituju sebagai tempat hijrah adalah Kota Yatsrib, bukan kota yang ada di mimpi Rasulullah.

Berdasar buku Membaca Sirah Nabi Muhammad dalam Sorotan Al-Qur’an dan Hadis-hadis Shahih karya M Quraish Shihab, disebutkan, Madinah merupakan tempat yang istimewa dibanding kota lain di Arab Saudi.

Pertama, penduduknya ramah. Kota Yatsrib atau Madinah saat itu banyak dihuni Suku Aus dan Khazraj, yang berasal dari Yaman. Sementara orang Yaman dikenal sebagai orang yang memiliki budi yang halus dan perasaan yang lembut. 

“Penduduk Yaman datang kepadamu. Mereka itu lembut hati dan halus perasaan,” kata Rasulullah ketika rombongan dari Yaman mengunjunginya usai Perang Khaibar. 

Baca juga
Ini Alasan Kenapa Makkah dan Madinah Dilarang Dimasuki Nonmuslim

Kedua, penduduk Madinah memiliki pengalaman berperang. Suku Aus dan suku Khazraj, ditambah komunitas Yahudi Madinah, dikenal tidak pernah akur. Berdasarkan sejarah, mereka kerap melancarkan perang satu sama lain. Peperangannya pun bisa berlangsung tahunan.

Tercatat terjadi 10 kali peperangan di Madinah. Perang Samir menjadi awal, sementara Perang Bu’ats menjadi perang terakhir. Perang Bu'ats terjadi lima tahun sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah.  

Namun saat Rasulullah SAW hijrah ke Madinah, masyarakat kota tersebut sudah damai dan tidak lagi terjadi peperangan. Pengalaman penduduk berperang ini kemudian menjadi hal yang penting di saat perjuangan menjaga ajaran agama Islam.

Alasan ketiga, Rasulullah SAW ternyata memiliki hubungan darah dengan penduduk Madinah. Nabi Muhammad SAW pernah diajak ibundanya, Sayyidah Aminah, berkunjung ke Madinah. Di sana, Rasulullah dan ibundanya berziarah ke makam ayahnya Nabi Muhammad, Sayyidina Abdullah. Selain itu, Sayyidah Aminah juga mengajak Rasulullah bersilaturahim ke saudaranya di Madinah, Bani Najjar. 

Alasan keempat, letak Kota Madinah strategis. Bagian timur dan barat Kota Madinah merupakan sebuah wilayah yang terjal. Kawasan ini merupakan dataran tinggi dan dataran rendah yang penuh bebatuan keras. Hal ini bisa menyulitkan musuh memasuki kota Madinah.

Bagian terbuka dari Kota Madinah hanya berada di sisi utara. Hal inilah yang kemudian terjadi Perang Khandaq.

Berdasarkan buku Madinah: Kota Suci, Piagam Madinah, dan Teladan Nabi Muhammad SAW karya Zuhairi Misrawi, disebutkan bahwa kota Madinah dibentuk atau dibangun oleh orang-orang yang eksodus dari tempat asalnya dengan berbagai alasan.

Selain itu Yatsrib juga adalah kota yang konon menjadi tempat pertama yang dituju pengikut Nabi Nuh AS yang selamat dari banjir maha dahsyat. Salah satu pengikut Nabi Nuh yang ke Madinah adalah Yatsrib bin Qaniyah bin Mahlail bin Iram bin Abil bin Iwadh bin Iram bin Sam bin Nuh AS. Hal inilah yang kemudian menjadikan wilayah tersebut pertama kali dikenal sebagai Kota Yatsrib.

Nama Yatsrib kemudian diganti menjadi Madinah saat Rasulullah datang ke kota tersebut. Nabi Muhammad kemudian tinggal di Madinah selama 10 tahun.

Dalam sebuah kesempatan Rasulullah pernah berdoa: Ya Allah anugerahilah pahala yang berlipat ganda di Madinah, sebagaimana Engkau telah memberikan berkah di Makkah.

 

Artikel lainnya

 

Related Articles

Berita Terpopuler

Berita Pilihan