New York Times Soroti Dimulainya Dinasti Politik di Indonesia

  • Arry
  • 10 Januari 2024 13:32
Prabowo Subianto, Ganjar Pranowo, dan Anies Baswedan saat Debat Pilpres Jilid ketiga(@aniesbaswedan/instagram)

Koran terkemuka Amerika Serikat, The New York Times menyoroti proses Pemilu di Indonesia. Mereka bahkan menyebut akan dimulainya era dinasti politik.

NY Times menulis artikel dengan judul 'For Indonesia's President, a Term Is Ending, but a Dynasty Is Beginning' yang terbit pada Minggu, 7 Januari 2024.

Artikel itu membahas terpilihnya Gibran Rakabuming Raka, putra sulung Presiden Jokowi, sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto.

New York Times menulis, Giban maju dalam Pilpres 2024 usai Mahkamah Konstitusi yang dipimpin pamannya, Anwar Usman, mengubah aturan batas usia minimal untuk menjadi capres dan cawapres.

Mereka mengutip pendapat pakar yang menyebut Jokowi berada di balik layar mengatur hal tersebut. Dia jiga berniat memperpanjang pengaruhnya jelang berakhirnya masa jabatan.


Artikel New York Times menyoroti soal munculnya Dinasti Politik di Indonesia (ist)

"Pada saat itu, para ahli hukum memperingatkan akan adanya konflik kepentingan ke depannya," tulis New York Times.

"Beberapa orang mendesaknya mengundurkan diri dari pengadilan atau, paling tidak, mundur dari kasus yang melibatkan saudara ipar barunya. Namun, Anwar masih berperan penting dalam keputusan yang membantu keponakannya."

Baca juga
PDIP Klaim Kaesang Maju Pilkada Depok Bukan Dinasti Politik Jokowi, Sudah Beda KK

NY Times bahkan menyinggung pernyataan Gibran sebelum keputusan MK, yang menyatakan belum layak maju dalam Pemilu 2024 karena belum tiga tahun menjabat Wali Kota Solo.

"Saya masih baru banget, masih banyak yang harus saya pelajari. Jadi ya kalau dari wali kota ke cawapres itu loncatnya terlalu tinggi," kata Gibran yang dikutip New York Times.

Dalam artikel berjudul "Anak Presiden dalam Skema Pemilu Indonesia. Apakah Ini Demokrasi atau Dinasti?" yang dirilis pada Sabtu, 6 Januari, NY Times juga menyatakan Gibran saat ini adalah simbol dari inasti politik.

"Sekarang dia adalah simbol dinasti politik yang sedang berkembang dan penerima keuntungan dari manuver keluarga," demikian laporan New York Times.

NY Times mengutip komentar pengamat dari Universitas Atma Jaya, Yoes C Kenawas, soal pencalonan Gibran sebagai cawapres.

Baca juga
Jimly Ungkap 11 Pelanggaran Etik yang Dilaporkan ke MKMK, Terbanyak Soal Paman Gibran

"Jelas bahwa Jokowi sedang membangun dinasti politik," kata Yoes C Kenawas.

"Tujuan Jokowi mempersiapkan putranya untuk mencalonkan diri sebagai presiden pada 2029. Menjabat di bawah pimpinan Prabowo akan menjadi masa magang."

"Karena pada akhirnya yang dituju adalah presiden. Bukan wakil presiden," ujar Yoes.

Pengamat lain yang dikutip NY Times adalah komentar dari dosen politik dan kajian keamanan yang fokus politik Indonesia dari Universitas Murdoch Ian Wilson.

"Saya sama sekali tak melihat Jokowi sebagai seorang demokrat," kata Wilson.

"Jokowi punya kecenderungan otokratis, begitu juga dengan Prabowo," ungkap dia.

Artikel lainnya: Wasiat Dokter Lo, Dokter Dermawan Asal Solo Sebelum Meninggal Dunia

 

Related Articles

Berita Terpopuler

Berita Pilihan