Bayi 28 hari meninggal usai diberi telur mentah, dokter ungkap bahayanya

  • Arry
  • 14 Okt 2026 13:14
Ilustrasi bayi(@lumapimentel/unsplash)

Newscast.id - Alena, seorang bayi berusia 28 hari meninggal dunia usai diberi telur mentah oleh neneknya. Dokter anak pun mengungkapkan bahaya telur mentah untuk bayi.

Tragedi memilukan ini viral di media sosial. Dalam narasi yang beredar disebutkan, Alena mulanya mengalami demam. Ibu dari ayah sang bayi kemudian memberikan telur mentah untuk Alena.

Namun, tindakan sang nenek itu justru membuat kondisi bayi Alena makin memburuk. Meski sempat dirawat di RSUD Dr Soetomo, bayi Alena akhirnya meninggal dunia pada 11 Oktober.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso mengingatkan agar orang tua tidak memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak. Sebab, telur yang belum matang itu mengandung bakteri Salmonella yang dapat menyebabkan infeksi saluran cerna.

Baca juga
Viral kisah bayi Alena usia 28 hari meninggal usai diberi makan telur mentah

"Telur mentah atau setengah matang dapat mengandung bakteri Salmonella yang menyebabkan infeksi saluran cerna atau salmonelosis," uajr Piprim dalam keterangan tertulis IDAI.

Infeksi Salmonella dapat menimbulkan sejumlah gejala, seperti diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi. Pada bayi dan anak kecil, infeksi dapat berlangsung lebih berat dan berpotensi menimbulkan komplikasi serius.

Ia menegaskan, telur mentah atau setengah matang tidak memberikan keuntungan gizi yang sebanding dengan risiko pemberiannya kepada bayi.

Sebaliknya, telur yang dimasak hingga matang merupakan sumber protein berkualitas tinggi dan mengandung berbagai zat gizi penting untuk pertumbuhan anak. Proses pemasakan yang tepat juga meningkatkan keamanan pangan dan daya cerna protein telur.

Tak hanya memperhatikan cara pengolahan, orang tua perlu menyesuaikan pemberian telur dengan usia dan kesiapan bayi menerima makanan.

IDAI mendukung rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) agar bayi mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama kehidupan. Setelah itu, pemberian ASI dilanjutkan bersama MPASI hingga anak berusia dua tahun atau lebih.

MPASI umumnya mulai diberikan ketika bayi berusia enam bulan. Pada usia tersebut, kebutuhan energi dan zat gizi bayi mulai melampaui yang dapat dipenuhi oleh ASI saja.

"Pemberian MPASI sebelum usia 4 bulan tidak dianjurkan. Pemberian MPASI sejak usia 4 bulan bukan merupakan rekomendasi rutin, melainkan pertimbangan individual dalam kondisi tertentu," tuturnya.

"Keputusan tersebut harus berdasarkan penilaian dokter dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan, kebutuhan nutrisi, dan kemampuan makan bayi," jelasnya.

Kesiapan bayi menerima MPASI dapat dilihat dari kemampuannya mempertahankan posisi kepala dan leher dengan stabil, duduk dengan bantuan, serta mengoordinasikan gerakan mulut untuk menerima dan menelan makanan.

Kesiapan tersebut perlu dinilai secara keseluruhan, bukan hanya berdasarkan satu tanda.

Artikel lainnya: Tips makan nasi Padang anti kalap saat diet dari dokter gizi

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait