Eks Dirut tersangka korupsi pakan Kebun Binatang Surabaya Rp10,2 M, satwa jadi kurus

  • Arry
  • 23 Jul 2026 12:21
Kondisi harimau di Kebun Binatang Surabaya mendapat sorotan(smh/smh.com.au)

Newscast.id - Mantan Direktur Utama Kebun Binatang Surabaya (KBS), Choirul Anwar, ditetapkan sebagai tersangka korupsi. Dia diduga mengembat duit pengelolaan KBS Rp10,2 miliar. Tindakan ini membuat banyak hwwan menjadi kurus dan sakit.

Aspidsus Kejati Jatim, I Gede Punia, menjelaskan, Choirul Anwar ditetapkan sebagai tersangka usai penyidik menemukan bukti permulaan yang cukup terkait penyalahgunaan anggaran operasional KBS. Penyidik menemukan ada pengeluaran kas yang tidak sah pada 2023-2024 dan turut disetujui oleh Direktur Keuangan kala itu.

"Pada malam ini kami menetapkan satu orang tersangka atas nama inisial CA selaku Direktur Utama Perusahaan Daerah Taman Satwa Kebun Binatang Surabaya," kata Punia dalam keterangannya.

Punia menjelaskan modus yang dilakukan tersangka adalah memerintahkan staf Departemen Accounting and Finance untuk mengeluarkan anggaran perusahaan. Dana itu selanjutnya dialokasikan untuk pengeluaran fiktif, kegiatan yang tak sesuai dengan peruntukan, sampai kepentingan pribadi.

Baca juga
Diklaim Punah Sejak 1980-an, KLHK: Harimau Jawa Diduga Masih Ada di Alam

Agar aksinya tak terendus, dibuat laporan pertanggungjawaban (LPJ). LPJ itu diduga dibuat tersangka seolah-olah dana telah digunakan untuk kegiatan operasional.

Dari hasil perhitungan sementara BPKP Jatim, tindakan itu membuat kerugian keuangan negara hingga Rp10.209.664.735,60 atau Rp 10,2 miliar. Dari total tersebut, Rp 7,4 miliar diantaranya diduga kuat mengalir langsung untuk keperluan pribadi CA.

Punia menjelaskan, dampak dari korupsi dana itu tak hanya merugikan keuangan negara. Tetapi juga memicu penurunan kualitas perawatan di lingkungan Kebun Binatang Surabaya.

"Anggaran operasional yang semestinya digunakan untuk perawatan dan pakan satwa tidak disalurkan semestinya. Akibatnya, fasilitas menjadi tidak terawat, rusak, kotor, serta satwa menjadi kurang sehat, kurus, bahkan cenderung mati. Salah satu modusnya adalah manipulasi anggaran pakan binatang," ujarnya.

Artikel lainnya: Dua tol di Pulau Jawa disiapkan untuk pendaratan jet tempur, ini daftarnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait