Mafia Karantina Bikin Presiden Jokowi dan Sandiaga Uno Murka

  • Arry
  • 2 Feb 2022 09:42
Ilustrasi Karantina Covid 19(@MarkusWinkler/unsplash)

Masalah karantina Covid-19 di Indonesia kembali mencuat. Kini membuat Presiden Joko Widodo dan Menteri Pariwisata dan ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, murka atas kasus kekarantinaan.

Adanya dugaan mafia karantina di Indonesia sebenarnya sudah mencuat saat selebgram Rachel Vennya bisa bebas tidak mengikuti karantina. Dengan membayar Rp40 juta Rachel bersama kekasihnya, Salim Nauderer, bisa tidak ikut karantina usai melancong dari Amerika Serikat.

Karena bersikap sopan, Rachel Vennya dan kekasihnya hanya divonis 4 bulan penjara gegara tidak ikut karantina. Sementara kasus pemberian uang Rp40 juta masih belum jelas pengusutannya.

Baca Juga
Rachel Vennya Divonis 4 Bulan Penjara dan Denda Rp50 Juta, tapi Tak Ditahan

Polda Metro Jaya juga telah menangkap 11 tersangka yang diduga meloloskan penumpang dari India tanpa karantina.

Lima tersangka adalah warga India yang tidak menjalani karantina. Dua tersangka warga India yang membantu bebas dari karantina, dan empat warga Indonesia sebagai calo yang dibayar Rp6,5 juta.

Kini kasus kekarantinaan kembali mencuat saat dua WNA teriak soal karantina di salah satu hotel di Jakarta. Di penghujung karantina hendak berakhir, mereka tiba-tiba divonis positif Covid-19.

Baca Juga
Rachel Vennya Disebut Dapat Duit Buat Karantina, Eh Malah Kabur

Seperti yang dialami turis asal Ukraina. Pengalaman turis itu diunggah oleh Sandiaga Uno di akun Instagramnya.

"Di hari terakhir karantina, di salah satu hotel di Jakarta, mereka mendapat kabar bahwa tes PCR yang mereka ambil sebelum meninggalkan hotel menunjukkan hasil 'positif'," tulis Sandiaga.

Turis itu merasa ditipu oleh pihak hotel. Karena satu hari sebelum keluar dari hotel dia dinyatakan positif Covid-19.

Turis itu meminta agar melakukan tes PCR dari luar untuk membandingkan hasil tes dari hotel. Namun permintaannya ditolak.

"Itu tidak adil dan benar-benar keterlaluan. Kami tidak memiliki gejala apa pun dan isolasi tambahan sangat mahal, jadi pasti saya merasa bahwa kami ditipu."

"Saya memiliki teman yang berada di rumah sakit karantina yang diperlakukan seperti sandera, tanpa gejala apa pun dan saya memiliki anak bersama saya ... itu sulit dipercaya dan saya butuh bantuan," kata turis itu.

Pengalaman serupa juga dialami WN Amerika Serikat bernama Matthew Joseph Martin. Matthew yang telah enam tahun menetap di Indonesia datang ke Tanah Air bersama anaknya pada 30 Desember 2021.

Pengakuan WN Amerika soal karantina di Indonesia

Sebelum berangkat ke Indonesia, Matthew sudah tes PCR di AS dan hasilnya negatif. Setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, hasl tes PCR Matthew dan anaknya juga negatif.

Berdasarkan aturan, Matthew dan anaknya kemudian karantina di salah satu hotel di Jakarta. Biayanya Rp16,5 juta untuk 10 hari.

Dua hari jelang keluar karantina, mereka kembali dites PCR. Hasilnya mereka positif Covid-19.

"Saya dikasih tahu lewat telepon kamar, hasilnya positif. Tidak ada surat hasil tesnya, CT saya berapa, saya tidak tahu," kata Matthew dilansir BBC News Indonesia.

Matthew kemudian diminta petugas untuk pindah ke hotel isolasi. Namun dia menolak dan meminta untuk tes PCR ulang untuk membandingkan hasil tes sebelumnya.

"Karena kami pernah mendengar cerita adanya penipuan. Tapi ditolak dan kalau minta lagi, diancam dideportasi. Petugasnya tidak jelas dari mana, apakah dari Satgas Covid, atau petugas hotel, tidak menunjukkan identitasnya, membuat kami tidak nyaman, kami dipaksa pindah ke hotel isolasi," ujarnya.

Namun, Matthew tak berdaya. Dia diharuskan pindah ke hotel isolasi. Berdasarkan brosur yang diterima, kondisi hotel tersebut terlihat baik.

"Kami pun harus membayar Rp650.000 untuk pindah hotel dengan jarak 1,5 kilometer," kata Matthew.

Namun kondisi hotel tersebut ternyata sangat buruk. Meski demikian, Matthew mengaku tidak mempunyai pilihan dan tetap menjalani isolasi hingga dinyatakan negatif dan diizinkan keluar hotel.

"Selama 18 hari di hotel, semua prosedur tidak jelas, tidak ada yang beri tahu kami SOP-nya, semuanya berantakan. Kami merasa ditipu dan bahkan diancam dideportasi, jadi banyak dari kami (turis asing) yang memilih diam," kata Matthew.


Selanjutnya Presiden Jokowi dan Sandiaga Murka >>>

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait