Ketua BEM UGM diteror-diincar 2 pria badan tegap usai suarakan kasus anak bunuh diri
- Arry
- 14 Februari 2026 13:02
Newscast.id - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) Yogyakarta, Tiyo Ardianto, mengaku mendapatkan teror. Ancaman ini diterima usai dia lantang menyuarakan kasus anak bunuh diri di NTT.
Tiyo mengaku mendapat teror mulai dari ancaman, penguntitan, pemotretan, hingga penculikan melalui pesan dari nomor tak dikenal. Beragam teror ini dia terima selama 9-11 Februari 2026.
“Saya mendapat pesan dari nomor tidak dikenal yang mengancam mau menculik,” kat Tiyo kepada wartawan, Jumat, 13 Februari 2026.
Tiyo menceritakan pernah dikuntit orang tak dikenal pada 11 Februari. Penguntitan dilakukan dua laki-laki dewasa dengan postur tubuh tegap.
Baca juga
Pilu! Isi surat bocah 10 tahun di NTT yang bunuh diri gegara ibu tak bisa beli buku
"Yang menguntit dan memotret dari jauh dua orang laki-laki dewasa. Tubuhnya tegap dan masih relatif muda," paparnya.
Tiyo mengaku sempat mengejar orang yang diduga menguntit itu. Namun, mereka menghilang.
“Dua pria yang tidak dikenal itu ketika kami kejar menghilang,” ujarnya.
Tiyo menjelaskan, aksi teror ini dia terima usai menyuarakan kasus anak bunuh diri di NTT. Diduga ada pihak yang tersinggung dengan kritikan yang dia lontarkan.
"Apa yang saya suarakan di berbagai media mungkin ada yang tersinggung," ucapnya.
Baca juga
Siswa SD di NTT gantung diri gegara tak dapat beli buku dan pulpen untuk sekolah
Mengenai respons kampus dan aparat, Tiyo mengaku belum melakukan komunikasi.
“Saya juga tidak berkomunikasi langsung dengan kampus dan aparat soal ini,” ujarnya.
Dalam Instagram pribadinya, Tiyo menegaskan tidak takut dengan rangkaian teror dan intimidari yang dia terima.
“Saya dan BEM UGM tidak akan takut apalagi gentar. Selama terus lahir orang-orang waras di republik ini, selama itulah penguasa yang zalim tidak akan hidup tenang,” ujarnya.
“Terima kasih untuk rakyat Indonesia, berkat cahaya doa Anda semua, saya masih baik-baik saja. Saya akan terus baik-baik saja,” jelasnya.
Untuk diketahui, BEM UGM sempat menyurati UNICEF soal kasus bunuh diri di NTT. Mereka meminta agar lembaga PBB itu menyoroti kasus tragis anak berusia 10 tahun di NTT yang bunuh diri karena tidak mampu membeli alat tulis seharga kurang dari Rp 10.000.
Dalam suratnya, Tiyo menulis, “What kind of world do we live in when a child loses his life because he cannot afford a pen and a book?”.
“Dunia macam apa yang kita tinggali ketika seorang anak kehilangan nyawanya karena dia tidak mampu membeli pena dan buku?,” tulisnya.
Dia meenyatakan, tragedi ini bukanlah nasib atau kejadian terisolasi, namun akibat “systemic failure” (kegagalan sistemik) dan kegagalan negara melindungi warga paling rentan.
Dia pun meminta UNICEF meningkatkan perannya di Indonesia, terutama dalam memperkuat perlindungan anak, menjamin anggaran pendidikan, dan mencegah kematian yang seharusnya bisa dihindari akibat kegagalan kebijakan.
Artikel lainnya: Viral dua sejoli diduga mesum di taksi online di Jaksel, polisi telusuri