Geger riset palsu oleh warga Indonesia, ini awal mula kasus terbongkar

  • Arry
  • 29 Mei 2026 10:41
Ilustrasi riset penelitian(@uxindo/unsplash)

Newscast.id - Skandal penelitian palsu yang diduga melibatkan peserta asal Indonesia menggegerkan ajang International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) di Kopenhagen, Denmark. Acara digelar pada 17-21 Mei 2026.

Kasus ini dibongkar oleh Wa Ode Dwi Daningrat, epidemiolog Indonesia yang tengah menempuh studi doktoral di Oxford University. Dia menilai ada sejumlah kejanggalan yang dilakukan oleh pemateri asal Indonesia selama konferensi ISPPD berlangsung.

ISPPD adalah sebuah konferensi ilmiah terkemuka yang saat ini dihadiri lebih dari 1.300 peserta dari 86 negara. Salah satu pemateri yang mendapat sorotan dari Wa Ode Dwi adalah Prihantini.

Mulanya Dwi dan rekannya merasa ingin mengenal sebagai sesama orang Indonesia pada latar belakang pemateri yang diketahui bernama Prihantini. Menurutnya, komunitas riset pneumonia di Indonesia umumnya saling mengetahui melalui publikasi ilmiah maupun jejaring akademik internasional meski tidak kenal secara personal.

Baca juga
Daftar 103 sekolah swasta gratis jenjang SD-SMA dan sederajat di Jakarta

"Gue sama teman gue aware karena dia pakai afiliasi Indonesia. Kalau kita baca paper tentang pneumonia di Indonesia orangnya itu-itu aja. Makanya kami scrutinize sampai ketahuan kayak gini karena dia afiliasinya Indonesia. Jadi naturally we are curious about that. Apalagi berasal dari satu negara sama-sama Indonesia di konferensi minimal saling sapa," kata Dwi dalam kronologi yang diungkap di akun Instagram miliknya dikutip Jumat, 29 Mei 2026.

Namun, dia mulai mencurigai tingkah Prihantini yang kerap menghindari interaksi dengan delegasi Indonesia lainnya. Salah satunya adalah menggunakan nama berbeda-beda saat memperkenalkan diri kepada orang yang berbeda.

Dwi pun kemudian menilai ada kejanggalan pula pada sejumlah data yang ditampilkan Prihantini dalam risetnya. Salah satunya adalah soal klaim pengumpulan data primer di wilayah dataran tinggi Andes, Peru, yang dinilai tanpa melibatkan kolaborator lokal sama sekali. Padahal, dalam praktik riset internasional, hal tersebut dinilai hampir mustahil dilakukan.

"Mereka tuh ngumpulin data di Andes. Ngumpulin data dan enggak ada sama sekali kolaborator lokal di negara itu impossible untuk melakukan penelitian kayak gitu di negara orang. Itu salah satu keanehan yang paling menonjol," ujarnya.

Baca juga
Sejarah 2 Mei Ditetapkan Sebagai Hari Pendidikan Nasional

Dwi dan rekan-rekannya kemudian mengikuti sesi di mana Prihantini mempresentasikan risetnya.

Dwi menjelaskan, salah satu contoh Prihantini menggunakan nama samaran adalah saat sesi presentasi dengan judul penelitian "Urban Heat Islands and Ageing Lung Vulnerability: Mapping Pneumococcal Pneumonia Risk and Climate-Exposed Older Adult Hotspots in LMIC Megacities". Saat itu, Prihantini memperkenalkan dirinya bernama Riana Dwi Kurniawati.

Sepuluh menit kemudian, lanjut Dwi, di presentasi yang berbeda, perempuan yang sama itu kembali tampil usai mengganti jilbabnya menjadi warna merah. Kali ini dia mengeluarkan identitas bertuliskan nama "Dimas Fajar Prasetyo".

"Dimas" kemudian mempresentasikan penelitian yang berjudul "AI-Fused Satellite Climate, Urban Heat and PCV Uptake to Prioritise Pneumococcal Booster Strategies for Frail Older Adults in LMIC Megacities".

Sementara nama Prihantini tidak ada dalam daftar penulis dalam kedua penelitian di atas. Dia diketahui memang mengirimkan 5 judul penelitian dalam konferensi tersebut dan dipamerkan dalam bentuk poster.

Judulnya yaitu Deep Reinforment Learning Guided Scheduling of Flagellin and Antibiotics For Precision Host-Directed Therapy in Pneumococcal Pneumonia; Global Data Mining of Resistant Pneumococcal Sepsis Transcriptomes Identifies Conserved Stress Modules Linking Virulence, Metabolism, and Vulnerability Axes; Multiscale Mathematical Modeling of Influenza-Pneumococcal Superinfection to Define Optimal Timing for Flagellin Host-Directed Therapy; Deep Learning Integration of Innate Lymphoid Cell States, Lung Transcriptomic Programs, and Cross-Vivarium Microbiota Predicts Interleukin-22-Dependent Disease Severity in Pneumococcal Pneumonia; Multi-Strain Machine Learning Identifies Transcriptomic Combination Vulnerabilities in Multidrug-Resistant Streptococcus Pneumoniae.

5 judul riset itu dikerjakan Prihantini bersama Rifaldy Fajar dan Rini Winarti. Namun, Prihantini dan Rifaldy menggunakan nama AI-Biomedicine Research Group, IMCDS Biomed Research Foundation, Jakarta sebagai institusi asal. Sementara Rini Winarti memakai nama Departemen Biologi, Universitas Negeri Yogyakarta sebagai afiliasi.

Respons Mendikti

Menteri Pendidikan Tingi, Riset, dan Teknologi, Brian Yuliarto, mengungkapkan, Prihantini dan Rifaldy tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif.

"Berdasarkan informasi awal yang kami peroleh, pihak-pihak yang disebut dalam kasus ini tidak terindikasi sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. Meski demikian, persoalan ini tetap menjadi perhatian karena dapat memengaruhi persepsi terhadap ekosistem riset nasional secara lebih luas," ujar Brian dalam keterangannya.

"Indonesia memiliki mekanisme evaluasi integritas riset melalui perguruan tinggi, komite etik, LPPM, sistem penjaminan mutu akademik, serta mekanisme pemantauan dan evaluasi dari Kemdiktisaintek maupun BRIN sesuai kewenangannya," jelasnya.

Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik UNY, Prof Nur Hidayanto, menyebut tengah menelusuri alumni yang tercatut dalam kasus tersebut.

Artikel lainnya: Viral lagu 'MBG Mas Buahlil Ganteng', ini lirik dan asal usulnya

Related Articles

Berita Terpopuler

Berita Pilihan