Mengenal Ogoh-ogoh dalam Perayaan Nyepi? Ini Sejarah dan Filosofinya

  • Arry
  • 22 Maret 2023 07:29
Ogoh-ogoh dalam perayaan Hari Raya Nyepi di Bali(@intek/unsplash)

Salah satu yang ditunggu masyarakat Bali dalam perayaan Hari Raya Nyepi adalah pawai Ogoh-ogoh. Pawai ini tidak hanya menarik perhatian wisatawan dalam negeri, melainkan juga turis asing.

Pawai Ogoh-ogoh ini merupakan bagian dari ritual Ngrupuk yang dilaksanakan sebelum Hari Raya Nyepi. Ritual ini dilakukan dengan berkeliling pemukiman sambil membuat bunyi-bunyian disertai penebaran nasi tawur dan menyebarkan asap dupa atau obor secara beramai-ramai.

Saat berkeliling, masyarakat biasanya membawa ogoh-ogoh dengan tujuan agar bhuta kala serta unsur negatif lainnya menjauh dari kehidupan umat manusia.

Lalu bagaimana sejarahnya Ogoh-ogoh itu?

Melansir laman Pemkab Buleleng Bali, Ogoh-ogoh itu sebenarnya diambil dari sebutan ogah–ogah dari bahasa Bali yang artinya sesuatu yang digoyang-goyangkan.

Baca juga
Catat! 22 dan 23 Maret 2023 Libur dan Cuti Bersama Nyepi

Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia edisi tahun 1986, Ogoh-ogoh didefinisikan sebagai ondel-ondel yang beraneka ragam dengan bentuk yang menyeramkan.

Perayaan ogoh-ogoh ini dimulai sekitar 1983. Saat itu ada keputusan presiden yang menyatakan Nyepi sebagai hari libur nasional. Semenjak itu masyarakat mulai membuat perwujudan onggokan yang kemudian disebut ogoh-ogoh, di beberapa tempat di Denpasar. Budaya baru ini semakin menyebar ketika ogoh-ogoh diikutkan dalam Pesta Kesenian Bali ke XII.

Ogoh-ogoh merupakan karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala. Dalam ajaran Hindu Dharma, Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan.

Selain wujud Rakshasa, Ogoh-ogoh sering pula digambarkan dalam wujud makhluk-makhluk yang hidup di Mayapada, Syurga dan Naraka, seperti: naga, gajah,, Widyadari, bahkan Dalam perkembangannya, ada yang dibuat menyerupai orang-orang terkenal, seperti para pemimpin dunia, artis atau tokoh agama bahkan penjahat.

Cendekiawan Hindu dharma mengambil kesimpulan bahwa proses perayaan ogoh-ogoh melambangkan keinsyafan manusia akan kekuatan alam semesta, dan waktu yang maha dahsyat. Kekuatan itu dibagi dua, pertama kekuatan bhuana agung, yang artinya kekuatan alam raya, dan kedua adalah kekuatan bhuana alit yang berarti kekuatan dalam diri manusia.

Artikel lainnya: 10 Khasiat Minum Teh: Bikin Kurus Hingga Tingkatkan Kualitas Tidur

 

Related Articles

Berita Terpopuler

Berita Pilihan