Newscast.id - Penyakit Hantavirus tengah merebak. Tiga pelancong meninggal dunia di atas kapal pesiar akibat terinfeksi Hantavirus. Sementara satu penumpang lainnya positif, serta dua kru kapal menderita sakit parah.
Pelancong ini tengah berada di Kapal pesiar Hondius yang berlayar dari Argentina menuju Cape Verde. Saat ini terdapat 149 penumpang dan awak kapal di dalamnya.
"Badan Kesehatan Dunia (WHO) wilayah Eropa menyatakan bahwa risiko bagi masyarakat umum tetap rendah,” demikian pernyataan resmi WHO pada Senin, 4 Mei. "Tidak ada alasan untuk panik atau memberlakukan pembatasan perjalanan.”
Apa itu Hantavirus dan bagaimana penyebarannya?
Mengutip laman Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, Hantavirus adalah virus zoonosis yang secara alami menginfeksi hewan pengerat dan kadang-kadang ditularkan ke manusia. Infeksi pada manusia dapat menyebabkan penyakit parah dan seringkali kematian, meskipun penyakitnya bervariasi tergantung jenis virus dan lokasi geografis.
Baca juga
Virus HMPV Asal China Ditemukan di RI dan Diderita Anak-anak, Menkes: Jangan Panik
Di Amerika, infeksi diketahui menyebabkan sindrom kardiopulmoner hantavirus (HCPS), suatu kondisi yang berkembang pesat dan memengaruhi paru-paru dan jantung, sedangkan di Eropa dan Asia hantavirus diketahui menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS), yang terutama memengaruhi ginjal dan pembuluh darah.
Banyak yang menduga Hantavirus adalah penyakit langka dari luar negeri. Kementerian Kesehatan RI mengungkapkan, virus ini ternyata telah berada di Indonesia sejak 1980-an.
Studi komprehensif yang dilakukan di berbagai kota besar menemukan bahwa seroprevalensi hantavirus pada manusia di Indonesia mencapai sekitar 11,6 persen. Artinya, dari setiap 10 orang, setidaknya satu pernah terpapar virus ini, meskipun mungkin tidak pernah terdiagnosis.
Lebih jauh lagi, pada populasi tikus sebagai reservoir utama, angka infeksi bahkan bisa mencapai 0–34 persen. Ini menunjukkan bahwa virus tersebut beredar aktif di lingkungan, terutama di wilayah dengan kepadatan rodensia tinggi.
Dalam dokumen resmi Kementerian Kesehatan, hantavirus disebut sebagai zoonosis emerging, penyakit baru yang muncul dan berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan masyarakat. Masalahnya bukan sekadar ada atau tidaknya virus ini. Masalah utamanya adalah kita sering tidak menyadari keberadaannya.
Mengapa Hantavirus Sering “Tidak Terlihat”?
Di Indonesia, penyakit dengan gejala demam lebih sering langsung diasosiasikan dengan dengue, tifoid, atau leptospirosis. Padahal, hantavirus memiliki gejala awal yang hampir identik: demam, nyeri otot, mual, dan kelelahan. Akibatnya, banyak kasus kemungkinan besar salah diagnosis atau tidak terdeteksi sama sekali.
Meskipun banyak spesies hantavirus telah diidentifikasi di seluruh dunia, hanya sejumlah kecil yang diketahui menyebabkan penyakit pada manusia.
Hantavirus yang terdapat di Amerika Utara, Tengah, dan Selatan diketahui menyebabkan HCPS. Virus Andes merupakan bagian dari famili ini dan diketahui menyebabkan penularan dari manusia ke manusia dalam jumlah terbatas di antara kontak dekat dan berkepanjangan, terutama di Argentina dan Chili.
Hantavirus yang ditemukan di Eropa dan Asia diketahui menyebabkan demam berdarah dengan HFRS (Hamhorn-Free Respiratory Syndrome). Penularan dari manusia ke manusia belum didokumentasikan di wilayah ini.
Penularan
WHO menjelaskan, penularan hantavirus ke manusia terjadi melalui kontak dengan urin, kotoran, atau air liur hewan pengerat yang terinfeksi dan terkontaminasi. Infeksi juga dapat terjadi, meskipun lebih jarang, melalui gigitan hewan pengerat.
Aktivitas yang melibatkan kontak dengan hewan pengerat seperti membersihkan ruang tertutup atau berventilasi buruk, pertanian, pekerjaan kehutanan, dan tidur di tempat tinggal yang dipenuhi hewan pengerat meningkatkan risiko paparan.
Sampai saat ini, penularan dari manusia ke manusia hanya didokumentasikan untuk virus Andes di Amerika dan masih jarang terjadi. Jika terjadi, penularan antar manusia dikaitkan dengan kontak dekat dan berkepanjangan, terutama di antara anggota keluarga atau pasangan intim, dan tampaknya paling mungkin terjadi selama fase awal penyakit, ketika virus lebih mudah menular.
Gejala dan gambaran klinis
Pada manusia, gejala biasanya mulai muncul antara satu hingga delapan minggu setelah terpapar, tergantung pada jenis virusnya, dan biasanya meliputi demam, sakit kepala, nyeri otot, dan gejala gastrointestinal seperti sakit perut, mual, atau muntah.
- Pada HCPS, penyakit ini dapat berkembang dengan cepat menjadi batuk, sesak napas, penumpukan cairan di paru-paru, dan syok.
- Pada HFRS, stadium lanjut dapat mencakup tekanan darah rendah, gangguan pembekuan darah, dan gagal ginjal.
Pencegahan dan pengendalian
Pencegahan infeksi hantavirus terutama bergantung pada pengurangan kontak antara manusia dan hewan pengerat. Langkah-langkah efektif meliputi:
- menjaga kebersihan rumah dan tempat kerja
- menutup celah yang memungkinkan hewan pengerat masuk ke dalam bangunan.
- menyimpan makanan dengan aman
- menggunakan praktik pembersihan yang aman di area yang terkontaminasi oleh hewan pengerat
- menghindari menyapu kering atau menyedot kotoran tikus dengan penyedot debu
- membasahi area yang terkontaminasi sebelum dibersihkan.
- Memperkuat praktik kebersihan tangan.
Artikel lainnya: Kemenag gelar sidang isbat penentuan Iduladha 1447 H pada 17 Mei
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News