Newscast.id - Seorang guru berinisial F di SDN Jelbuk 02 di Kecamatan Jelbuk, Jember, Jawa Timur, menghukum 22 muridnya dengan ditelanjangi. Gegaranya, dia merasa kehilangan uang total Rp275 ribu.
Peristiwa ini bermula pada Kamis 5 Februari 2026 saat guru F kehilangan Rp200 ribu. Keesokan harinya, dia kembali kehilangan Rp75 ribu.
F kemudian menggeledah tas muridnya. Tak hanya itu, dia juga menelanjangi 22 muridnya.
F meminta siswa laki-laki membuka seluruh pakaiannya. Sementara siswa perempuan diminta menyisakan pakaian dalam.
Baca juga
2 Guru Luwu Utara Dipecat Gegara Bantu Honorer yang Tak Digaji
Aksi itu memicu kemarahan orang tua murid. Mengetahui anaknya ditelanjangi, para orang tua murid mendatangi sekolah dan mendobrak pintu kelas yang ditutup. Video peristiwa ini pun viral di media sosial.
"Ya, kalau cerita dari yang bersangkutan katanya beliau kehilangan sesuatu dan itu bukan yang pertama kalinya menurut beliau. Nah, pada yang terakhir kehilangan ini beliau itu yang operatif karena bukan yang pertama kalinya. Dan ini yang menjadi kesalahan fatal beliau seperti itu," kata Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Arief Tjahjono, kepada wartawan, Kamis, 12 Februari 2026.
"Ya karena ada ribut saja gitu lah. Ada ribut, kemudian wali kelas yang meredam itu, kemudian berhenti. Nah, sehingga ramai. Ini akhirnya wali murid yang mengetahui akhirnya menjadi berita yang seperti ini," ucapnya.
Menurut Arief, pihaknya kemudian memanggil guru F dan para wali murid untuk dimediasi.
"Kita berembuk dengan para wali murid untuk mencarikan jalan dan solusi terbaik agar supaya hal ini tidak berlarut-larut," katanya.
"Alhamdulillah karena pada prinsipnya kami di Dinas Pendidikan ini adalah bagaimana agar supaya KBM atau kegiatan belajar-mengajar ini tidak terganggu oleh hal-hal tersebut. Alhamdulillah ini sudah bisa kita atasi," tambahnya.
Baca juga
Geger Guru Biologi di Bandung Barat Minta Muridnya Gambar Alat Kelamin
Guru dimutasi
Atas peristiwa itu, Dinas Pendidikan Jember memberikan sanksi kepada guru F. Dia dimutasi dan tidak mengajar di sekolahan itu untuk sementara waktu.
"Kami selaku dinas juga harus bertindak profesional sesuai dengan SOP yang berlaku, maka akan ada hal-hal yang harus kita lakukan untuk kita tarik untuk sementara sembari kita berkoordinasi dengan OPD yang lain agar supaya beliau bisa kita pindahkan di tempat yang lain, supaya siswa dan wali murid ini bisa menjalani kegiatan belajar-mengajar dengan baik lagi gitu," ujar dia.
Sementara itu, pihaknya juga juga memberikan trauma healing kepada para siswa. Trauma healing dilakukan oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
"Agar supaya adik-adik siswa ini tidak ada rasa trauma yang terlalu mendalam. Ini adalah hal-hal yang sudah dilakukan oleh Dinas Pendidikan untuk mengatasi masalah tersebut," ujarnya.
Arief pun menyampaikan permintaan maaf atas peristiwa tersebut.
"Oleh karena itu saya selaku Kepala Dinas Pendidikan mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada para wali murid. Kami akan memperbaiki kinerja agar supaya tidak terjadi lagi di masa-masa yang akan datang," kata dia.
Artikel lainnya: Kasus pelecehan seksual, Mohan Hazian minta maaf: tindakan saya telah langgar batas
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News