Newscast.id - Acara diskusi yang digelar di Joglo GIK, Universitas Gadjah Mada, Sleman DI Yogyakarta, dan menghadirkan sejumlah pejabat berakhir ricuh usai digeruduk ratusan mahasiswa pada Senin, 16 Juni 2026 malam.
Acara diskusi bertajuk Kopdar Bareng Mas Dar dihadiri Menteri ATR/BPN Nusron Wahid; Wakil Menteri Pertanian Sudaryono; dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko. Diskusi bertemakan 'Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia'.
Mulanya Kopdar berjalan lancar. Ketiga pejabat itu mendapatkan sesi berbicara di atas panggung.
Lalu tiba saat mereka diminta menanggapi video viral tentang eks Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto yang mengaku menemukan alat pelacak di mobilnya.
Baca juga
Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto temukan alat penyadap di mobilnya usai Aksi Gejayan
Saat Budiman Sudjatmiko mendapat giliran dan berkomentar soal Tiyo, tetiba terdengar bunyi sirine pengeras suara dari arah luar panggung. Sejumlah mahasiswa lalu naik ke panggung.
Sejumlah mahasiswa pun langsung mengepung area panggung. Mereka kemudian membentangkan spanduk. Di antaranya bertuliskan 'UGM Menolak Pengkhianat Reformasi' dan 'UGM Menolak Penjilat Rezim'.
Sejumlah mahasiswa pun meneriakkan Budiman Sudjatmiko, yang diketahui adalah mantan aktivis 98, sebagai penjilat Prabowo-Gibran. Terdengar pula ada teriakan 'Revolusi'
Tak lama, Budiman langsung dikawal petugas keamanan untuk dievakuasi dari panggung sebelum pecah aksi lempar gelar air mineral. Usai insiden itu, Budiman juga tak lagi terlihat di lokasi.
Baca juga
Bela Prabowo, Budiman Sudjatmiko: Tak Ada Bukti Hukum Beliau Kriminal
Para mahasiswa kemudian mencari keberadaan Budiman Sudjatmiko. Sementara puluhan mahasiswa lain mengadang mobil tumpangan para pejabat di pintu timur keluar GIK.
"Budiman, mana Budiman!" teriak para mahasiswa.
"Katanya mau diskusi," pekik mahasiswa lainnya.
"Kalau Budiman dan Sudaryono tidak mau keluar, kita enggak akan pergi!" seru mahasiswa lainnya.
Baca juga
Budiman Sudjatmiko Ungkap Pengakuan Prabowo Subianto Soal Penculikan Aktivis
Tak lama, Nusron dan Sudaryono tampak keluar dan menemui mahasiswa di gerbang selatan UGM. Mereka duduk bersila di aspal dan berdialog bersama.
Para mahasiswa dan dua pejabat itu sempat saling teriak. Setelah itu, seorang mahasiswa bertanya kepada Nusron mengenai ratusan ribu hektare lahan di Papua yang dialihfungsikan, hingga membuat masyarakat di sana tergusur. Ia menagih tanggungjawab Nusron sebagai menteri ATR/BPN.
Jawaban Nusron yang mengajak mahasiswa ke Papua justru memantik amarah. Dan terjadi lagi adu mulut antara mahasiswa dengan kedua pejabat itu. Beberapa menit kemudian, Nusron dan Sudaryono bangkit dari duduknya dan menuju arah Bundaran UGM.
Namun, rombongan Nusron dan Sudaryono dihalau mahasiswa dengan water barrier. Meski demikian, rombongan menteri itu berhasil menembusnya dengan mobil patwal. Momen kejar-kejaran pun kemudian terjadi sampai ke timur Bundaran UGM.
Kericuhan mulai mereda sekira pukul 21.30 WIB. Mahasiswa yang sebelumnya melakukan aksi membubarkan diri dan kembali ke fakultas masing-masing.
Respons Wamentan Sudaryono >>>
Sudaryono buka suara soal kericuhan di UGM. Menurutnya, kedatangan mereka ke UGM untuk berdialog secara terbuka dan demokratis dengan mahasiswa.
"Kami datang ke UGM memang untuk berdiskusi. Acara ini sudah direncanakan sejak lama dan telah mendapat izin dari pihak kampus. Ini juga bukan kegiatan pertama semacam ini," ujar Sudaryono.
"Ditanya apa saja tidak masalah. Diadili seperti apa saja juga tidak masalah. Kami hadir untuk berdialog secara demokratis," katanya.
"Kami sempat berdiskusi sekitar 30 sampai 40 menit. Tetapi kemudian ada sekelompok orang yang menginginkan forum dihentikan. Padahal sebagian besar mahasiswa justru ingin mendengar dan berdialog," ungkapnya.
Dia mengaku situasi kemudian semakin panas. Hingga akhirnya ada pelemparan air dan dugaan tindakan fisik.
"Saya merasa ada yang memukul saya. Ada pelemparan air juga. Karena situasi sudah tidak kondusif, pihak keamanan menyarankan kami keluar," ujarnya.
Sudaryono membantah, dia dan rombongan meninggalkan lokasi karena menghindari dialog.
"Kalau ada yang mengatakan Sudaryono dan Nusron kabur, itu tidak tepat. Justru kami yang datang untuk berdiskusi. Bahkan saat mobil kami dicegat dan kami dicari-cari, kami keluar lagi dan duduk bersila di aspal untuk melanjutkan dialog," tegasnya.
"Saya minta maaf kepada adik-adik mahasiswa yang sebetulnya ingin berdialog secara baik. Kami siap jika diundang kembali, baik di Yogyakarta maupun Jakarta. Yang penting kita berdiskusi," katanya.
"Atas dasar cinta kepada negara, kami siap berdialog dengan siapa pun. Ini bukti bahwa pemerintah demokratis dan terbuka terhadap kritik maupun masukan," pungkasnya.
Artikel lainnya: Viral pengunjung Dog Cafe diduga lecehkan anjing, polisi turun tangan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News