Sempat Dibuang Soekarno, Begini Sejarah Naskah Proklamasi

  • Arry
  • 17 Agt 2021 09:53
Naskah asli Proklamasi yang ditulis tangan Soekarno(indonesia.go.id/indonesiagoid)

HUT Kemerdekaan Indonesia identik dengan pembacaan teks proklamasi. Teks ini pertama kali dibacakan Soekarno pada 17 Agustus 1945 di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta.

Perumusan naskah proklamasi terjadi setelah Soekarno dan Mohammad Hatta dikembalikan ke Jakarta dari Rengasdengklok pada 16 Agustus. Seusai peristiwa tersebut, baik golongan muda maupun golongan tua sepakat agar proklamasi segera disusun dan diumumkan kemerdekaan Indonesia.

Setibanya di Jakarta, mereka pun mencari tempat yang dirasa cukup aman untuk merumuskan naskah proklamasi. Rumah perwira tinggi Angkatan Laut Jepang di Indonesia Laksamana Tadashi Maeda, yang berada di Jalan Meiji Dori (sekarang Jalan Imam Bonjol Nomor 1), Jakarta Pusat, dipilih sebagai lokasi perumusan naskah teks proklamasi pada dini hari, 17 Agustus 1945.

Baca Juga:
76 Tahun Lalu, Soekarno-Hatta Diculik Sebelum Bacakan Proklamasi

Teks proklamasi sendiri dirumuskan dan ditulis oleh Soekarno dengan dibantu Mohammad Hatta. Perumusan tersebut disaksikan langsung oleh Miyoshi, Soekarni, BM Diah, dan Soediro.

Dalam naskah konsep Proklamasi itu tertulis seperti berikut ini.

Proklamasi

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal2 jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, 17 - 8 - 45

Wakil2 bangsa Indonesia

Soekarno sempat mencoret dua kata di dalam naskah asli konsep Proklamasi tersebut, seperti kata 'penyerahan' yang semula dicoret diganti dengan kata 'pengambilan' sebelum diubah lagi menjadi 'pemindahan'. Kemudian kata 'dioesahakan' dicoret menjadi 'diselenggarakan'.

Dilansir dari Indonesia.go.id, Direktur Preservasi Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), Kandar, menceritakan kata-kata tersebut dicoret karena menggambarkan jeritan hati rakyat Indonesia yang mengharapkan kemerdekaan lahir dan batin. Kata-kata ini dicoret supaya tidak menimbulkan pertentangan.

Naskah konsep itu kemudian diketik rapi dengan mengubah beberapa ejaan kata dan tata bahasa oleh Sayuti disaksikan BM Diah di sebuah ruangan yang terletak di bawah tangga rumah Maeda. Naskah hasil ketikan Sayuti itu berisi seperti ini:

P R O K L A M A S I

Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara saksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.

Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 45

Atas nama bangsa Indonesia.

Soekarno/Hatta

Ada yang berbeda dari naskah tulisan tangan, terutama pada kalimat terakhirnya. Semula, naskah ini akan ditandatangani oleh 50-60 orang yang hadir di kediaman Maeda. Tetapi kemudian disepakati untuk tidak ditandatangani serta diganti dengan kalimat 'Atas nama bangsa Indonesia'.

Baca Juga:
Sejarah Lagu Indonesia Raya dan Kisah di Balik Penciptaannya

Ada kisah menarik setelah teks proklamasi itu diketik Sayuti Melik. Naskah asli yang berisi tulisan tangan itu sempat diremas Bung Karno dan dibuang ke tempat sampah. "Karena dinilai sudah tidak terpakai lagi setelah ada konsep yang diketik rapi oleh Pak Sayuti Melik," kata Pelaksana tugas Kepala ANRI Taufik.

Namun, BM Diah yang saat itu berprofesi sebagai jurnalis menilai lain. Meski sudah dibuang ke tempat sampah, kertas berisi tulisan tangan konsep Proklamasi itu adalah bagian dari saksi bisu sejarah perjalanan bangsa dan harus diselamatkan.

Kini, naskah asli konsep Proklamasi atau yang disebut Proklamasi Klad disimpan rapi di ANRI. Proklamasi Klad itu hanya dikeluarkan satu tahun sekali dari ANRI, saat peringatan HUT Kemerdekaan Indonesia.

Proklamasi Klad itu akan disandingkan dengan Bendera Pusaka pada detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI di mimbar kehormatan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait