5 Kritik Dino Patti Djalal ke Prabowo: 1 dari 6 hari berada di luar negeri

  • Arry
  • 2 Juni 2026 16:46
Mantan Wakil Menteri Luar Negeri Dino Patti Djalal(@dinopattidjalal/instagram)

Newscast.id - Mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal, melontarkan kritik ke Presiden Prabowo Subianto yang dinilai kerap ke luar negeri. Dino menilai Prabowo menjadi kepala negara paling banyak pelesiran ke luar negeri.

Terakhir kali Prabowo ke luar negeri adalah ke Prancis pada pekan lalu. Ini adalah kunjungan ketiga Prabowo ke Prancis pada 2026 ini.

"Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri," kata Dino Patti Djalal dalam video yang diunggah di akun sosial medianya, dikutip Selasa, 2 Juni 2026.

"Semenjak menjabat menjadi Presiden, 1 dari 6 hari dihabiskan beliau di luar negeri dan tidak heran kalau ada yang beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar batas kewajaran. Dan sangat tidak mungkin dalam 18 bulan ke depan, Presiden Prabowo terus melakukan kunjungan internasional dalam frekuensi yang sama tingginya," kata Dino.

Dino menilai, kunjungan presiden ke luar negeri memakan biaya yang besar. Belum lagi tambahan biaya buat rombongan tim pendahulu, biaya pesawat, biaya hotel, biaya logistik, biaya konsumsi, biaya protokoler dan pengamanan, biaya uang harian untuk seluruh delegasi, dan berbagai biaya lainnya. Menurut Dino, untuk satu perjalanan, Presiden bisa menghabiskan biaya puluhan hingga ratusan miliar.

Dino pun memberikan 5 saran untuk Prabowo:

Pertama, untuk menjaga komunikasi dengan pemimpin dunia lain, Dino menyarankan Prabowo lebih mengandalkan video call, Zoom call atau telepon. Menurut pengalamannya, suatu kunjungan bilateral biasanya hanya berpusat pada satu pembicaraan yang berlangsung selama satu jam atau paling banter dua jam.

"Dan selebihnya basa-basi, jamuan, dan seremonial yang biasanya tidak perlu. Jadi dengan satu video call yang bernilai 0 rupiah, negara praktis dapat menghemat ratusan miliar dari perjalanan keluar negeri dan hasilnya dari segi substansi juga kurang lebih sama. Aksi penghematan melalui Zoom call ini dapat menjawab persepsi sebagai masyarakat yang menganggap perjalanan Presiden ke luar negeri cenderung boros dan bersifat jalan-jalan," ujar Dino.

Baca juga
Dikritik sering jalan-jalan ke luar negeri, Prabowo: Amankan minyak

Dino pun mencontohkan Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum yang hanya berkontak via telepon dengan Presiden AS Donald Trump. Menurutnya, Sheinbaum tercatat sudah 17 kali menelepon Trump dan belum sekalipun melakukan pertemuan bilateral.

Padahal, Amerika adalah mitra perdagangan terbesar bagi Meksiko. Selain itu, Sheinbaum juga menggunakan pesawat komersil saat kunjungan kerja ke Spanyol.

Kedua, untuk menghemat biaya dan waktu, Dino menganjurkan agar Prabowo dapat memanfaatkan kunjungan ke suatu forum internasional bertemu kepala negara lain yang juga hadir. Menurutnya, Presiden Finlandia Alexander Stubb pernah meminta waktu bertemu Prabowo saat sidang PBB di New York, namun tidak direspons.

Tak hanya itu, Dino mengatakan dalam KTT ASEAN di Cebu, Filipina, seorang kepala pemerintah negara ASEAN mengarahkan pertemuan bilateral, namun juga tidak pernah direspons. Dino menyarankan Istana menerapkan formula 1 plus 8, yaitu dalam menghadiri forum internasional, Prabowo bisa menerima atau bertemu paling tidak dengan delapan kepala negara lain yang juga hadir.

Ketiga, Dino berharap kunjungan internasional Prabowo dapat dilakukan secara profesional dan direncanakan dengan baik. Dino mengamati ada sejumlah kunjungan yang dilakukan secara spontan, tanpa perencanaan dan tujuan yang jelas, sehingga secara garis besar perlu dipetakan setahun sebelumnya.

"Baik Seskab Teddy atau Menlu Sugiono perlu mengumumkan rencana kunjungan Presiden ke suatu negara satu bulan sebelumnya, atau minimal seminggu sebelum hari H. Dan diumumkan juga bersamaan dengan negara yang akan dikunjungi. Kunjungan Presiden ke Pakistan dan Rusia sewaktu becana banjir Sumatera misalnya dilakukan tanpa ada informasi apapun kepada publik sebelum berangkat. Perlukulah diterapkan asas akuntabilitas dan transparansi karena cukup sering publik tidak tahu Presiden ada di mana di luar negeri," ujar Dino.

Keempat, Dino menganjurkan untuk satu tahun ke depan Prabowo lebih banyak menerima tamu negara di Tanah Air ketimbang melakukan perjalanan ke luar negeri. Lagi-lagi Dino mencontohkan kepala negara lain, Presiden China Xi Jinping disebut jauh lebih banyak menerima tamu negara di Beijing ketimbang bepergian ke luar negeri.

Kelima, Dino mengusulkan agar ke depan sebagian besar misi diplomatik yang bersifat taktis dapat ditangani Menlu Sugiono. Hal ini menurut Dino akan menghemat biaya karena perjalanan Menlu hanya didampingi oleh tiga orang staf, akan jauh lebih hemat dari biaya perjalanan Presiden.

"Namun di sini Menlu Sugiono harus melepaskan diri sebagai bagian dari entourage Presiden yang harus selalu berada di samping Presiden. Ingat, Menlu Hasan Wirayuda, Marty Natalegawa, dan Retno Marsudi semuanya tidak pernah menempatkan diri sebagai bagian dari entourage Presiden dan mereka fokus total untuk menangani politik luar negeri," imbuhnya.  

Artikel lainnya: Jokowi absen di Upacara Hari Pancasila saat Megawati hadir, ajudan: Tak diundang

Related Articles

Berita Terpopuler

Berita Pilihan