2. Pecah kongsi
Di tengah upaya melakukan ekspansi bisnis, Lismar dan Sabirin, tetiba memutuskan pecah kongsi. Mengutip utas yang ditulis akun X @belajarlagiHQ, pecah kongsi terjadi pada 2003.
Meski pecah kongsi, kedua sahabat itu tetap menggunakan nama Pagi Sore pada restoran mereka. Belum diketahui pasti alasan keduanya memutuskan berpisah.
Mereka pun memutuskan untuk mengembangkan menu dan resep dengan cara masing-masing.
3. Perbedaan logo
Pecah kongsi ini membuat munculnya restoran Padang Pagi Sore dengan logo merah dan Pagi Sore dengan logo hijau. Keduanya dikelola dengan manajemen yang berbeda.
H. Sabirin kemudian melanjutkan usahanya dengan membuka cabang pertama di Jakarta pada 2006. Dia mengelola Pagi Sore dengan logo berwarna merah, kuning, dan hijau, serta mengusung tagline "Jagonya Rendang". Pagi Sore versi H Sabirin sangat agresif melebarkan sayap di wilayah Jakarta.
Sementara itu, H. Lismar membuka restoran Padang Pagi Sore dengan logo berwarna putih, hijau, dan kuning. Restoran ini menggunakan tagline "Rumah Makan Padang Pagi Sore Khas Minang". H Lismar memfokuskan pendirian restoran di Lubuk Linggau dan Bangka Belitung, sebelum akhirnya membuka cabang di Jakarta.
4. Ekspansi bisnis
Usai pecah kongsi, kedua Pagi Sore terus berkembang dengan caranya masing-masing. Bahkan kini keduanya juga mendirikan banyak restoran dengan merek jual yang baru.
Pagi Sore logo merah diketahui membawahi restoran Padang lain bernama Sari Indah. Pernyataan ini telah dikonfirmasi langsung oleh cucu H. Sabirin.
Sementara Pagi Sore logo hijau membawahi Nasi Kapau Kedai Pak Ciman melalui anak H.Lismar yaitu H.Erwin.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News