Mensos Risma Paksa Tunarungu Bicara, Ini Alasannya

  • Arry
  • 2 Des 2021 12:38
Menteri Sosial Tri Rismaharini memkasa Tunarungu bicara(Tangkapan layar @Kemensos/youtube)

Menteri Sosial Tri Rismaharini memaksa penyandang disabilitas tunarungu berbicara di depan publik. Tindakan pemaksaan Risma ini mengundang kritik.

Peristiwa tersebut terjadi sat Risma menghadiri peringatan Hari Disabilitas Internasional 2021 pada Rabu, 1 Desember.

Dilihat dari tayangan di channel YouTube Kemensos, peristiwa itu diawali saat Risma berbincang dengan salah satu penyandang disabilitas, Anfield Wibowo.

"Apa? Yang mau disampaikan ke ibu apa?" tanya Risma ke Anfield.

"Selamat siang, Ibu dan Bapak, hadirin sekalian di sini. Semoga ibu menteri suka dengan lukisan Anfield. Terima kasih," kata Anfield melalui juru bicara bahasa isyarat di Kemensos.

Kemudian Risma mengundang penyandang tunarungu lain bernama Aldi ke atas penggung.

"Aldi, ini ibu. Kamu sekarang harus bicara, kamu bisa bicara. Ibu paksa kamu untuk bicara," kaat Risma.

"Nah, Aldi, yang ibu ingin sampaikan, kamu punya di dalam, apa namanya, pikiranmu, kamu harus sampaikan ke ibu, apa pikiranmu," ucap Risma.

"Kamu sekarang, ibu minta bicara, nggak pakai alat. Kamu bisa bicara," kata Risma.

Aldi tampak mencoba berbicara tanpa menggunakan alat bantu. Namun suaranya sulit terdengar. Risma pun terus memaksa Aldi berbicara tanpa menggunakan alat bantu.

Tak lama, datang seorang dari perwakilan Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) bernama Stefanus.

"Ibu. mohon maaf, saya mau berbicara dengan ibu sebelumnya," kata Stefanus yang diterjemahkan oleh juru bicara isyarat.

"Bahwasanya anak tuli itu memang menggunakan alat bantu dengar tapi tidak untuk kemudian dipaksa bicara. Tadi saya sangat kaget ketika ibu memberikan pernyataan. Mohon maaf, Bu, apa saya salah?" imbuhnya.

"Nggak, nggak," jawab Risma.

"Saya ingin menyampaikan bahwasanya bahasa isyarat itu penting bagi kami, bahasa isyarat itu adalah seperti mata bagi kami, mungkin seperti alat bantu dengar. Kalau alat bantu dengar itu bisa mendengarkan suara, tapi kalau suaranya tidak jelas itu tidak akan bisa terdengar juga," kata Stefanus.

Risma kemudian menjelaskan maksudnya.

"Stefan, ibu tidak... ibu tidak mengurangi bahasa isyarat, tapi kamu tahu Tuhan itu memberikan mulut, memberikan telinga, memberikan mata kepada kita. Yang ingin ibu ajarkan kepada kalian terutama anak-anak yang dia menggunakan alat bantu dengar sebetulnya tidak mesti dia bisa, sebetulnya tidak mesti bisu," kata Risma.

"Jadi karena itu kenapa ibu paksa kalian untuk bicara? Ibu paksa memang, supaya kita bisa memaksimalkan pemberian Tuhan kepada kita, mulut, mata, telinga. Jadi ibu tidak melarang menggunakan bahasa isyarat tapi kalau kamu bisa bicara maka itu akan lebih baik lagi," lanjutnya.

"Saya belajar ini dari Mbak Angkie (staf khusus Presiden Jokowi). Mbak Angki dulu pada waktu berapa tahun lalu waktu ibu awal jadi wali kota ketemu dengan Mbak Angkie. Saat itu Mbak Angkie bicaranya tidak jelas seperti sekarang tapi sekarang karena dilatih terus oleh Mbak Angkie, sekarang bicaranya sangat jelas. Mengerti ya Stefan?" kata Risma.

Stefan pun merespons pernyataan Risma.

"Jadi kemampuan bicara anak tuli itu bermacam-macam. Jadi ada yang memang tuli sejak kecil seperti Mbak Angkie. Kemampuan bahasa isyaratnya juga beragam-ragam, ada yang bisa berbahasa isyarat, ada yang tidak bisa berbahasa isyarat. Jadi itu yang harus dihargai," ujarnya.

"Plus bahasa isyarat itu bisa memberikan pemahaman pada orang tuli. Contohnya ada juru bicara bahasa isyarat, orang tuli bisa melihat juru bicara bahasa isyarat dengan jelas ketika situasi acara seperti ini. Itu juga sebuah akses bagi kami," kata Stefan melalui juru bicara bahasa isyarat.

"Aku setuju itu. Aku sangat setuju itu, tapi saya berharap kita harus mencoba. Setuju? Kita harus mencoba," balas Risma.

"Saya hanya ingin menyampaikan saja. Mohon maaf tadi bukan tidak menghormati ibu, bukan tidak setuju dengan ibu tapi saya hanya ingin menyampaikan pendapat saya saja," ucap Stefan.

Risma kembali melanjutkan penjelasannya.

"Ibu pengen coba seberapa kemampuan anak untuk maksimalkan telinganya, mulutnya. Tidak boleh menyerah Stefan. Tidak ada kata menyerah. Tidak boleh berhenti," ucap risma.

"Kamu boleh belajar, boleh pake bahasa isyarat. Bahkan kalau perlu, ibu bicara ibu selalu didampingi penerjemah. Tapi ibu ingin melatih kepada kalian untuk tidak menyerah. Kalian harus terus berlatih sampai suatu saat, sampai di sini Tuhan memberikan," jelas Risma.

Lihat videonya di bawah ini:

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait