Pengacara Ungkap Ancaman Pembunuhan ke Brigadir J dan Pelucutan Decoder CCTV

  • Arry
  • 24 Jul 2022 18:03
Brigadir J alias Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat meninggal dunia dalam aksi polisi tembak polisi(ist/ist)

Pengacara pihak keluarga Brigadir J alias Brigadir Nofriansyah Yosua Hutabarat, Kamarudin Simanjuntak, menguak temuan baru terkait kasus polisi tembak polisi.

Temuan pertama adalah adanya rekaman elektronik yang menguak ancaman pembunuhan terhadap Brigadir J. Ancaman itu terjadi sejak Juni 2022.

"Sudah ada rekaman elektronik, yang mana almarhum saking takutnya di bulan Juni tahun 2022, ia sampai menangis," kata Kamaruddin Simanjuntak.

Menurutnya, ancaman terus berlanjut hingga menjelang Yosua meninggal dunia karena dibunuh.

"Ancaman pembunuhan itu terus berlanjut hingga satu hari menjelang pembantaian," katanya.

Baca juga
Mantan Kabareskrim Susno Duadji Ungkap 3 Kejanggalan Kasus Brigadir J

Meski demikian, dia enggan menyebut lebih lanjut bentuk ancaman hukuman yang diterima kliennya.

"Itu tugas polisi yang memastikan apakah di rumah dinas Kadiv Propam atau di luar. Tapi salah satu yang bisa saya sampaikan, pengancaman itu sudah ada di Magelang," ujarnya.

Selain itu, Kamarudin menyatakan ada sosok petinggi polisi yang memerintahkan mencopoti decoder CCTV di lingkungan rumah Irjen Ferdy Sambo di Kawasan Duren Tiga, Jakarta Selatan.

"Pertanyaannya siapa yang menyuruh itu? Tentu yang menyuruh adalah orang besar yang punya pangkat tinggi," kata Kamarudin.

Baca juga
Kasus Brigadir J, Kombes Budhi Buka Suara Usai Dinonaktifkan Sebagai Kapolres Jaksel

"Yang disuruh itu orang biasa bukan anggota di lingkungan perumahan. Maaf bukan bermaksud sara, yang disuruh itu masih satu keturunan sukunya," ujar Kamarudin.

Menurut Kamarudin, saat ini sudah ada tersangka dalam kasus polisi tembak polisi. Salah satunya adalah Bharada E.

"Tersangka lain saya belum bisa kasih inisial karena ini masih dirahasikan dulu untuk kepentingan penyidikan," kata Kamarudin.

 

Artikel lainnya

 

Berita Terkait