Muhammadiyah Luncurkan Varian Kristen Muhammadiyah, Ini Alasannya

  • Arry
  • 29 Mei 2023 13:19
Aliran Kristen Muhammadiyah(muhammadiyah/muhammadiyah.or.id)

Ormas Muhammadiyah meluncurkan varian baru. Mereka menyebutnya Kristen Muhammadiyah alias KrisMuha.

Melansir laman resmi Muhammadiyah, varian baru ini muncul merujuk pada warga Kristen yang menjadi simpatisan Muhammadiyah.

Fenomena unik ini berdasarkan penelitian yang dilakukan Abdul Mu’ti dan Fajar Riza Ulhaq yang kemudian disusun dalam buku utuh dengan judul Kristen Muhammadiyah: Mengelola Pluralitas Agama dalam Pendidikan.

Ketua LKKS PP Muhammadiyah, Fajar Riza Ulhaq menjelaskan, buku tersebut menggambarkan situasi toleransi di daerah-daerah terpencil di Indonesia, terutama di daerah 3 T (Terdepan, Terpencil, dan Tertinggal). Daerah-daerah pinggiran Indonesia yang dimaksud adalah Ende, Nusa Tenggara Timur (NTT); Serui, Papua; dan Putussibau, Kalimantan Barat (Kalbar).

Hadirnya varian KrisMuha ini terjadi akibat adanya interaksi yang intens antara siswa Muslim dan Kristen dalam lingkungan pendidikan di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Meski demikian, interaksi tersebut tidak menghilangkan identitas mereka sebagai penganut agama Kristen yang taat.

“Kami tidak menduga ketertarikan dan antusiasme masyarakat (pembaca) terhadap karya ini masih sedemikian besar hingga saat ini, meskipun buku ini pernah diterbitkan 2009 silam," jelas Fajar.

"Inilah kontribusi Muhammadiyah dalam membangun generasi Indonesia yang lebih toleran, inklusif, dan terbiasa hidup bersama dalam perbedaan,” ucap Fajar.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti menambahkan, buku ini diterbitkan pada 2009 namun kurang detail dalam hal data-data. Buku tersebut kini telah mengalami penyempurnaan yang komprehensif dan juga telah diperbaiki dengan baik.

“Terutama pada bagian bab dua dalam buku ini dijelaskan tentang akar pluralisme dalam pendidikan Muhammadiyah di tingkat akar rumput,” kata Mu`ti.

Menteri Kebudayaan Riset dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim, menjelaskan, buku ini merupakan salah satu cara bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang menganut nilai-nilai keberagaman, inklusivitas, dan bebas dari kekerasan, sebagai bentuk cinta terhadap lingkungan pendidikan.

“Gagasan toleransi yang dihadirkan dalam buku ini sejalan dengan cita-cita kami di Kemendikbudristek untuk menghapus kekerasan dari dunia pendidikan Indonesia," kata Nadiem.

"Sejak tiga tahun lalu, kami telah menjadikan intoleransi sebagai salah satu bentuk kekerasan yang wajib dicegah dan ditangani, di samping perundungan dan kekerasan seksual,” tutur Nadiem.

Artikel lainnya: Terungkap Siapa yang Merekam Video 47 Detik Mirip Rebecca Klopper

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait