MUI kecam challenge hafalan Surah Ad-dhuha berhadiah miras

  • Arry
  • 11 Agustus 2026 14:38
Ilustrasi minuman keras (miras)(@arobj/unsplash)

Newscast.id - Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengecam acara promosi minuman keras yang memberikan tantangan hafalan Al-Qur'an surah Ad-dhuha. MUI menyatakan tindakan tersebut merendahkan martabat agama.

Peristiwa ini terjadi di salah satu booth spnsor dalam acara musik The Sounds Project yang digelar pada Minggu, 9 Agustus 2026, di Ancol, Jakarta.

Dalam video yang viral, terlihat momen booth produk miras itu menggelar tantangan (challenge) hafalan surah Ad-dhuha bagi pengunjung. Imbalannya, akan diberikan sebotol miras yang tengah dipromosikan.

"Tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan, baik secara keagamaan, moral etika, maupun secara hukum. Pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya," kata Ketua MUI Bidang Fatwa, Prof KH Asrorun Niam Sholeh, dalam keterangannya dikutip dari laman resmi MUI, Selasa, 11 Agustus 2026.

Baca juga
Viral tantangan hafalan Al-Qur'an berhadiah miras, ini respons The Sound Project

Prof Niam menyatakan, Alquran merupakan Kalamullah yang sangat disucikan dan kegiatan membacanya adalah bentuk ibadah bernilai tinggi. Sedangkan minuman keras merupakan jenis minuman yang secara tegas diharamkan dalam Alquran.

"Membuat gimik membaca Alquran dengan iming-iming hadiah minuman keras adalah bentuk perendahan kesucian Alquran," lanjutnya.

Respons penyelenggara

Terkait video viral tersebut, pihak penyelenggara yakni The Sounds Project mengaku kecewa. Mereka mengaku langsung mengambil sikap.

“Melalui pesan ini, kami ingin menyampaikan sikap resmi terkait beredarnya video dan unggahan mengenai kejadian di salah satu booth sponsor, yakni Newport, dalam penyelenggaraan acara pada tanggal 9 Agustus 2026. Kami membutuhkan waktu untuk sampai pada pernyataan ini,” tulis The Sounds Project, di akun Instagramnya dikutip Selasa, 11 Agustus 2026.

“Kejadian tersebut melibatkan banyak pihak dan harus kami pastikan kebenarannya agar langkah yang kami ambil dapat dipertanggungjawabkan. Kami sebagai penyelenggara acara turut merasa marah, kecewa, dan mengecam perilaku tersebut,” tambahnya.

“Kami tidak pernah, dan tidak akan pernah, membenarkan perilaku yang menjadikan agama sebagai bahan challenge atau promosi produk dalam bentuk apa pun. Kami tegaskan bahwa kejadian tersebut sepenuhnya di luar arahan, persetujuan, dan kendali kami sebagai penyelenggara acara,” lanjut The Sounds Project.

Atas dasar itu, The Sounds Project akan melakukan tiga langkah yakni:

  1. Menegur pihak sponsor terkait dan meminta mereka menyelesaikan kasus ini hingga tuntas.
  2. Melakukan pengawalan ketat agar pihak sponsor segera mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat langsung dalam insiden tersebut untuk dapat mempertanggungjawabkan perbuatannya secara penuh.
  3. Melakukan evaluasi internal untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang dalam penyelenggaraan acara selanjutnya.

The Sounds Project pun menegaskan, mereka memegang teguh nilai-nilai penghormatan terhadap agama dan keyakinan setiap orang.

“Rasa hormat terhadap agama dan keyakinan seluruh audiens adalah nilai yang kami pegang teguh sebagai penyelenggara, dan tidak ada toleransi untuk pelanggaran terhadap nilai tersebut,” tutupnya.

Permintaan maaf MC

Sementara itu pemandu acara alias MC di booth minuman itu meminta maaf secara terbuka melalui akun media sosial Threads, aqueer_, yang dimiliki Revnaldo Ega.

"Saya Ega, selaku MC booth Newport pada Minggu, 9 Agustus 2026, memohon maaf atas kejadian yang terjadi saat acara berlangsung," kata dia.

"Kejadian tersebut merupakan aksi spontan audiens dan tidak terkait dengan pihak Newport. Saya mengakui kelalaian dalam mengendalikan situasi dan menjadikannya pembelajaran untuk lebih sigap dan bertanggung jawab ke depannya," imbuhnya, "Mohon maaf atas kegaduhan yang terjadi."

Artikel lainnya: Polisi usut dugaan pembunuhan berencana Sutrimo, karumga eks Jampidsus Febrie

Related Articles

Berita Terpopuler

Berita Pilihan