Jusuf Kalla dilaporkan ke polisi atas dugaan penistaan agama soal video 'Mati Syahid'

  • Arry
  • 13 April 2026 11:40
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla(ist/ist)

Newscast.id - Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dilaporkan ke polisi atas kasus penistaan agama. Pernyataan yang kontroversial itu disampaikan JK saat ceramah di Masjid Universitas Gadjah Mada (UGM).

Laporan disampaikan Pengurus Pusat Pemuda Katolik, DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI) dan sejumlah organisasi lainnya. Mereka menilai pernyataan JK dalam ceramah tersebut menuai polemik.

Berikut pernyataan JK yang dianggap menista agama:

"Kenapa agama gampang menjadi alasan konflik kayak di Poso, Ambon? Karena kedua-duanya Islam dan Kristen berpendapat mati atau menewaskan orang atau mematikan itu syahid. Saat konflik berlangsung kedua pihak berkeyakinan begitu. Kalau saya bunuh orang Islam, saya syahid. Kalau saya mati pun saya syahid. Akhirnya susah berhenti."

Baca juga
Dituding danai Roy Suryo soal isu ijazah palsu Jokowi, JK kesal dan akan lapor polisi

Sejumlah pihak menilai pernyataan itu telah menista agama Kristen. Sebab, Kristen tidak mengenal mati syahid untuk membunuh musuh dan bahwa ajaran Kristus adalah "Kasihilah musuhmu".

Laporan itu terdaftar dengan dengan nomor LP/B/2546/IV/2026/SPKT/POLDAMETROJAYA dan LP/B/2547/IV/2026/SPKT/POLDAMETROJAYA. Mereka melaporkan JK dengan Pasal 300 dan/atau Pasal 301 dan/atau Pasal 263 dan/atau Pasal 264 dan/atau Pasal 243 Undang-undang Nomor 1 Tahun 2023.

Ketua Umum Pengurus Pusat Pemuda Katolik Stefanus Gusma--yang juga melaporkan JK, menjelaskan pentingnya meluruskan pemahaman publik terkait ajaran Kristiani. Terutama soal mati syahid dalam Kristen.

"Dalam ajaran Kristiani, kasih adalah hukum yang utama. Iman kami tidak mengajarkan kekerasan sebagai jalan kesaksian, melainkan pengorbanan, kerendahan hati, dan kesediaan menderita tanpa membalas," tegas Gusma dalan keterangannya, Senin (13/4).

Dia menegaskan, konsep mati syahid dalam Kristen tidak pernah dimaknai sebagai tindakan menyerang atau menghilangkan nyawa orang lain. Namun kesetiaan pada iman hingga rela berkorban demi kebenaran.

"Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Ini menunjukkan bahwa kasih dalam iman Kristiani bersifat radikal, melampaui logika balas dendam," ujarnya.

"Allah adalah kasih dan sumber kehidupan. Karena itu, mencintai berarti menghormati seluruh makhluk hidup sebagai bagian dari ciptaan-Nya,"katanya.

"Ketika ajaran agama direduksi atau digeneralisasi secara keliru, yang muncul bukan hanya kesalahpahaman, tetapi juga potensi retaknya kepercayaan dan persatuan," tandas dia.

Penjelasan Pihak JK

Juru bicara Jusuf Kalla, Husein Abdullah, membantah tuduhan soal penistaan agama. Dia menjelaskan, JK hanya membeberkan fakta utuh di balik ceramah yang disampaikan.

Husain Abdullah menjelaskan, saat itu JK berbicara dalam konteks sejarah konflik Poso dan Ambon yang terjadi di awal Reformasi. Konflik itu bernuansa SARA yang menggunakan simbol agama sebagai alasan pembenar.

Menurutnya, saat ceramah di UGM JK tidak sedang khotbah mengajarkan teologi Kristen, tetapi menggambarkan usahanya kepada Civitas Akademika UGM, saat meluruskan keyakinan kedua kelompok yang bertikai Islam dan Kristen yang telah bertindak keliru sehingga menyebabkan ribuan nyawa melayang dari kedua pihak.

"Yang disampaikan Pak JK adalah realitas sosiologis di lapangan saat konflik pecah. Pada masa itu, benar terjadi bahwa baik kelompok Islam maupun kelompok Kristen sama-sama menyerukan 'perang suci' dan mengklaim bahwa membunuh pihak lawan atau mati dalam pertempuran adalah syahid," kata Husein dalam keterangan tertulisnya.

"Itu fakta sejarah, karena itu baik konflik Poso maupun Ambon disebut bernuansa SARA. Konflik yang saat itu menewaskan ribuan orang, bukan pendapat pribadi Pak JK," jelasnya.

Artikel lainnya: Negosiasi damai AS-Iran buntu, perang lanjut?

Related Articles

Berita Terpopuler

Berita Pilihan