5 Peristiwa Luar Biasa Jelang Kelahiran Nabi Muhammad SAW: Padamnya Api Keabadian

  • Arry
  • 10 Oktober 2022 05:37
Kaligrafi Nabi Muhammad SAW di Haiga Sofia, Istanbul, Turki(Rumman Amin/unsplash)

Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal pada Tahun Gajah atau 571 Masehi. Sejumlah peristiwa luar biasa terjadi jelang lahirnya Rasulullah.

Melansir laman NU Online, berikut 5 peristiwa luar biasa yang mengiringi kelahiran Nabi Muhammad SAW:

1. Padamnya Api Sesembahan Majusi

Majusi adalah suatu kepercayaan yang ada sebelum kedatangan Islam. Pengikut dari kepercayaan agama ini sangat menyakralkan unsur api. Bagi mereka, Api adalah kekuatan yang bisa memberikan perlindungan bagi manusia dari segala macam bahaya.

Konon, mereka memiliki sumber api yang tidak pernah padam selama ribuan tahun. Namun api ini padam saat Nabi Muhammad SAW lahir.

Hal ini seperti diriwayatkan Imam al-Baihaqi disebutkan:

“Pada malam kelahiran Nabi Muhammad saw, balkon istana Kisra runtuh, 14 gereja runtuh, api (sesembahan Majusi) di Persia padam yang sebelumnya menyala selama 1000 tahun, dan gereja Bahira ambles ke tanah.”

Menurut Imam az-Zurqani, selain diriwayatkan Imam al-Baiqahi, hadits ini juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim al-Khara’iti, Ibnu ‘Asakir, dan Ibnu Jarir ath-Thabari, yang semua sanadnya sampai kepada Hani al-Makhzumi (Imam Abu Abdilah az-Zurqani, Syarh Mawahibul Ladduniyyah, 2012: juz I, halaman 228).


2. Lahir dalam Keadaan Sujud

Imam Jalaluddin as-Suyuti dalam Khasaishul Kubra melaporkan bahwa begitu keluar dari rahim Siti Aminah, Nabi Muhammad sujud lalu mengangkat kedua tangannya seperti orang berdoa. (Jalaluddin as-Suyuti, Khasaishul Kubra, 2017: 82).


3. Lahir dalam Keadaan Sudah Dikhitan

Salah satu keistimewaan yang dimiliki oleh Nabi Muhammad adalah sudah dalam keadaan dikhitan saat lahir.

Menurut Syekh Sulaiman al-Bujairami, selain Nabi Muhammad ada 14 nabi lain yang lahir sudah dalam keadaan sudah dikhitan, yaitu Nabi Adam, Nabi Syits, Nabi Nuh, Nabi Hud, Nabi Shaleh, Nabi Luth, Nabi Syu’aib, Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Sulaiman, Nabi Zakaria, Nabi Yahya, Nabi Isa, dan Nabi Handzalah bin Shafwan. (Hasyiyah al-Bujairami ‘alal Khatib, juz V, halaman 262).


4. Pertama Kali Dinamakan Muhammad

Kata Muhammad merupakan isim maf’ul dari kata ‘ḫamdun’ yang berarti pujian. Namuun, nama tersebut belum pernah dipakai bangsa Arab untuk diberikan sebagai nama bagi anak-anak mereka. Nama ini pun pertama kali dipakai oleh Nabi Muhammad SAW.

Imam Ibnu Qutaibah menegaskan, salah satu irhâsh atau peristiwa luar biasa yang menjadi pertanda akan dilahirkannya Nabi Muhammad adalah belum ada satu orang pun yang menggunakan kata “muhammad” sebagai nama. Hal ini sengaja Allah lakukan demi menjaga kesucian Nabi Muhammad sebagaimana hal serupa juga dilakukan kepada Nabi Yahya as. (Syihabuddin al-Qastalani, Mawahibul Ladduniyah, 2009: juz I, halaman 374).

Nama tersebut pun diberikan oleh sang kakek, Abdul Muthallib. Hal ini lantaran dia ingin agar cucunya menjadi orang yang dipuji oleh seluruh makhluk.

Saat itu Abdul Muthalib mendapatkan nama tersebut dari sebuah mimpi. Dia melihat rantai perak kleuar dari punggungnya. Rantai itu memiliki empat ujung yang masing-masing membentang ke arah berbeda. Satu berada di langit, satu berada di bumi, satu berada di arah barat, dan satu lagi berada di arah timur. Kemudian, rantai itu berubah menjadi pohon yang semua daunnya memancarkan cahaya. Seluruh manusia bergelantungan pada pohon itu.

Setelah ditafsiri, mimpi itu mengisyaratkan kelak dia akan memiliki keturunan yang ditakuti oleh manusia dari segala penjuru. Dan sejak saat itu pula dia bertekad memberikan nama keturunannya itu "Muhammad" yang artinya “orang yang banyak mendapat pujian”. (Imam Abu Abdilah az-Zurqani, Syarh Mawahibul Ladduniyyah, 2012: juz I, halaman 162).


5. Tertutupnya Akses Langit bagi Iblis

As-Suhaili dalam ar-Raudhul Unf menyampaikan:

“Diriwayatkan dalam beberapa hadits yang ma’tsur, dulu iblis bisa mencuri dengar di langit sebelum Nabi Isa diutus. Setelah Isa diutus atau dilahirkan, tertutup tiga lapis langit. Hingga Nabi Muhammad lahir, iblis tidak bisa lagi mencuri dengar sama sekali, sebab setan-setan sudah dilempari dengan bintang-bintang.” (Abul Qasim as-Suhaili, ar-Raudhul Unf, juz II, halaman 194). Wallahu a’lam.

 

Artikel lainnya

Related Articles

Berita Terpopuler

Berita Pilihan