Sejarah Toko Buku Gunung Agung: Bermula dari Kios Rokok Seorang Mualaf

  • Arry
  • 23 Mei 2023 08:51
Toko Buku Gunung Agung pertama(wikiwand/wikiwand.com)

Dari pameran buku yang digelar di Deca Park, Gedung Pertemuan (sekarang menjadi lapangan Monas), Haji Masagung mengenal banyak tokoh nasional. Termasuk Presiden Soekarno.

Dari perkenalan ini, Haji Masagung dipercaya menggelar rangkaian pameran buku di pameran buku di dalam dan luar negeri.

Bisnis Gunung Agung makin besar. Hal ini ditandai dengan pendirian gedung berlantai tiga di Jalan Kwitang Nomor 6, yang diresmikan langsung oleh Bung Karno pada 1963.

Dalam buku biografi Haji Masagung berjudul 'Di Usia Senja Ingin Mengharumkan Nama Islam', penulis Murthiko menyatakan, Haji Masagung memiliki peran besar menyuplai bahan bacaan berbahasa Indonesia saat Operasi Trikora, sebuah operasi penggabungan Irian Barat ke Indonesia pada 1961.

"Ia segera mendirikan Toko Buku di berbagai kota di Irian Barat. Ia juga rajin mengirimkan buku-buku berbahasa Indonesia untuk menggantikan buku-buku berbahasa Belanda (hal. 29). Tak hanya menyuplai buku, Masagung juga menyelenggarakan pameran buku di beberapa kota di Irian Jaya."

Haji Masagung tak hanya dekat dengan Bung Karno. Tetapi juga dengan Bung Hatta. Bahkan dari persahabatan itu, nama Mohammad Hatta masuk sebagai komisaris PT Gunung Agung. Terdapat pula nama tokoh nasional lainnya seperi Adinegoro dan HB Jassin.

Gunung Agung pun menjadi pemrakarsa penyusunan bibliografi (daftar buku lengkap) dalam bentuk katalog. Mereka sampai membentuk tim khusus bernama Bibliografi Buku Indonesia yang dipimpin oleh Ali Amran yang menjadi kepala Bagian Penerbit PT Gunung Agung.

PT Gunung Agung terus berkembang. Mereka bahkan memiliki sembilan anak usaha yang merambah berbagai sektor bisnis. Seperti agen alat tulis Parker, bisnis rokok Dunhill dan Rothmann, agen perdagangan film Kodak melalui PT Inter Delta, money changer melalui PT Ayu Masagung, hingga sektor properti, serta bisnis makanan dan minuman.

"Majunya usaha kami ini karena banyaknya tantangan dan rintangan yang berliku-liku. Modal bukanlah satu-satunya syarat mutlak untuk menjadi wiraswasta yang berhasil. Yang terpenting adalah adanya kemauan keras, keberanian, cita-cita, kreatif, kepercayaan kepada diri sendiri, dan juga nama baik,‟ kata Haji Masagung, Pendiri Toko Buku Gunung Agung.

Haji Masagung meninggal dunia pada September 1990. Sebelum meninggal dunia, Haji Masagung menyerahkan pengelolaan bisnis termasuk Toko Buku Gunung Agung pada tiga anaknya. Yakni Putra Masagung, Made Oke Masagung, serta Ketut Masagung.

Namun meski sudah bertahan hingga 70 tahun, Toko Buku Gunung Agung tak mampu bertahan menghadapi gempuran digitalisasi. Toko buku legendaris itu pun memutuskan menutup seluruh gerainya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait